Pendidikan Teknik Kimia Tiga Rasa

Hai.. udah luamaa banget kagak nulis, terus tiba-tiba tulisannya serius gini.. (minta dibacok) hhahaha.. iseng aja sih

TL;DR; tulisan ini sekedar keisengan pengen berbagi pandangan secuil manusia ini tentang pendidikan Teknik Kimia di tiga universitas (yang terletak di tiga negara) berbeda: Institut Teknologi Bandung (QS Rank 2016 = nggak ada di 100 besar jadi nggak muncul), Tokyo Institute of Technology (QS Rank 2016 = 23), dan Delft Technology University (QS Rank 2016 = 6).. Apa yang berbeda dari ketiganya, dan bagaimana kita (mungkin) bisa belajar dari perbedaan-perbedaan itu? Semoga bermanfaat

 

Fokus

Mulai dari perbedaan yang paling mencolok: fokus pendidikannya. Well, ini agak nggak apple-to-apple karena perbedaan strata pendidikan yang gue ambil di ketiga universitas tersebut (B.Sc. di ITB, Exchange di TIT, dan M.Sc. di TUD), tapi bisa lah feature besarnya kebayang dari apa yang sempet gue rasain.

Jepang = Research

Di TIT, research adalah segalanya. Ya, mungkin ini kerasa karena pas itu gue jadi anak exchange ecek-ecek, tapi berdasarkan ngobrol-ngobrol sama temen seperjuangan yang pada saat itu ngambil S2 atau S3, mereka setuju bahwa di Jepang research project lebih penting daripada pelajaran di kelas. Sistem di sana adalah kuliah = ke lab, ngerjain penelitian, kalo ada kelas baru nyuri waktu ke sana. Kelasnya sendiri, maaf, agak nggak worth. Mungkin karena gue anak exchange internasional kali ya.. jadi nggak sempet ngerasain kelas yang beneran.. tapi kelas yang gue ikutin waktu itu (yang notabene adalah kelas buat anak master internasional, soalnya itu doank yang pake bahasa Inggris.. mati aje kalo suruh belajar pake bahasa Jepang full) nggak terlalu signifikan pengaruhnya sama ilmu yang gue punya. Kebanyakan kelasnya udah gue dapet ilmunya di ITB (yang itu strata S1). Dosennya juga nggak terlalu keliatan niat untuk ngajar (mungkin karena kelas internasional yang memaksa mereka buat ngajar dalam English).

Yah, walopun kelasnya gitu, penelitian di sana kuenceng. Alat semua tersedia dengan enak: pada saat itu gue penelitian tentang fermentasi yang tentu saja membutuhkan autoclave buat mensterilisasi alat-alat. Nah, denger2 di jurusan sebelah himpunan (mikrobiologi ITB, red.), kalo mau make autoclave harus ngantri bisa sampe dua tiga hari, sedangkan di TIT, ngantrinya cuma sama anak se-lab aja yang berarti paling lama juga nunggu 3 jam.

Topik penelitian di TIT udah bergeser dari “optimasi produk/proses” ke “pengolahan lanjut/pengurangan limbah proses”. Itu yang bikin gue, anak Indonesia yang masih mencari-cari optimasi proses, agak susah nyari topik lanjutan di sana. Penelitiannya kebanyakan nggak bisa diimplementasikan di Indonesia secara langsung karena ya emang kejarannya beda.

Di Jepang, kuliah = ke lab, ngerjain penelitian, kalo ada kelas baru nyuri waktu ke sana

Belanda = (Mathematically-expressed) Basic Theoretical Approach

Hal yang paling bikin gue tertampar ketika menginjakkan kaki di Departement of Chemical Engineering, TU Delft adalah: “gue goblok banget matematikanya”. Beda dengan Jepang yang banyak fokus ke penelitian, di Belanda pelajaran di kelas nggak kalah penting dari penelitian. Kasus untuk anak master di sini, lama studi dua tahun, tahun pertama dihajar sama teori dan kengerian-kengerian persamaan baru tahun kedua diimplikasikan ke penelitian (yang juga banyak fokus ke arah teori dasar dan penjabarannya secara matematis).

Gue nggak bisa ngomong tentang penelitian di sini saat tulisan ini dibuat, karena emang gue belum ngalamin. Ini masih tahun pertama gue, di mana Navier-Stokes adalah makanan sehari-hari gue dan Matlab serta ANSYS adalah teman makan yang selalu setia menemani.

Di tahun pertama, ujian itu udah kayak snack. Hal pertama yang gue denger setelah 15 menit pertama kuliah pertama gue di kampus ini adalah: minggu depan hari Kamis udah ujian modul satu. WHAT??!! Di sisi lain dunia (jurusan-jurusan TU Delft yang lain), mereka cerita minggu pertama yang diisi dengan ekskursi ke pabrik. Erm..

Oiya, di sini sistemnya quarter (3 bulan, jadi setahun ada 4 quarter), satu quarter rata-rata diisi 15-20 ECTS (SKS) yang kalo diterjemahkan jadi 3-4 mata kuliah seminggu selama 3 bulan. Kebanyakan mata kuliahnya punya sistem ujian yang nggak cuma sekali di tengah dan sekali di akhir, tapi bisa dalam bentuk ujian modul yang datang 3 minggu sekali, kalo nggak tugas (dengan software matematika layaknya Matlab ato ANSYS) yang dikumpulin seminggu sekali. Yah, buat anak Himatek ITB, bisa dibilang udah jauh-jauh nyeberang lautan dapetnya sama-sama aja: ujian tiada akhir.

Balik ke premis di kalimat pertama dalam section ini: “gue goblok banget matematikanya”. Kenapa gue bisa tertampar seperti itu? Karena emang gue ngerasa matematika yang gue pelajari di S1 kurang banget buat menghadapi kuliah-kuliah di sini. Ya, mungkin karena guenya yang kurang bisa menyerap kuliah Peristiwa Perpindahan dengan baik, atau meleng waktu Komputasi Proses, tapi tetep gue merasa ada dasar-dasar penjabaran fenomena fisik dalam persamaan matematika yang kurang begitu dieksplor waktu gue di Indonesia dulu.

Di sini semua back to basic, segala peristiwa (reaksi terkatalisis, distilasi, bahkan perpindahan panas) dijabarkan dengan persamaan dasar yang, menurut gue, menjadikan teknik kimia itu teknik kimia: Navier Stokes (yah, walopun anak penerbangan juga make sih). Gue mengalami masalah yang cukup signifikan untuk sekedar bikin deskripsi matematis water droplet yang nggantung di ujung dinding, buat nantinya diliat gaya apa aja yang mempengaruhi gerakan water droplet tersebut setelah beberapa saat. Untungnya dosen di sini cukup mumpuni (dan sabar) untuk ngajarin makhuk kayak gue.

Hal yang paling bikin gue tertampar ketika menginjakkan kaki di Departement of Chemical Engineering, TU Delft adalah: “gue goblok banget matematikanya”.

Indonesia = Ibu Jari Ajaib

Ada yang berpikir bahwa di bagian Indonesia ini gue bakal ngomongin bahwa sistem dan kurikulum di Indonesia itu jelek, nggak kayak Jepang ato Belanda, dsb, bahwa kita nggak punya apa2 buat dibanggain sebagai anak Teknik Kimia di Indonesia? Alhamdulillah kalo nggak ada. Karena emang gue menemukan satu hal yang gue bisa cukup bangga karena (terlihat) agak lebih bisa daripada anak-anak Belanda: desain.

Gue cukup bersyukur karena (seperasaan gue) Teknik Kimia di Indonesia (ITB, red.) punya fokus di desain (terutama proses). Gue bersyukur dulu pernah dibantai habis-habisan waktu pembicaraan perancangan kolom distilasi, atau jam-jam malam yang dilalui waktu ngerancang heat exchanger, atau pusing-pusing yang dilewatin waktu ngeevaluasi kelayakan ekonomi pabrik rancangan waktu RP (Rancang Pabrik, red.) yang turns out kagak bisa balik modal. Hhhaha. Ternyata basis desain (proses, equipment) nggak terlalu ditekankan di strata satu pendidikan Belanda.

Waktu dapet kuliah tentang bikin HEN (Heat Exchanger Network, red.), gue langsung inget pelajaran Perancangan Proses, dan waktu gue ngelirik temen sebelah gue yang plonga-plongo, gue langsung tau jawaban yang dia kasih ke gue waktu gue nanya “belum pernah belajar ini di S1?” Penanaman logika heuristik tentang dasar-dasar perancangan (e.g. pemisahan diprioritaskan dari yang udah ada beda fasa baru yang ke satu fasa, pemisahan satu fasa untuk liquid diutamakan distilasi, baru ekstraksi, baru absorpsi, kapan milih make plug flow, kapan pilih continuous stirred tank) yang gue alami di ITB kerasa banget kuatnya waktu gue ngikutin mata kuliah rancang pabrik (iya, gue rancang pabrik lagi di sini). Dan itu adalah nilai plus gue dibanding sama temen sekelompok gue (iya, rancang pabriknya berkelompok lagi, tapi berenam, nggak cuma bertiga) yang bisa dengan lebih enak ngertiin logika2 heuristik yang disajiin di slide kuliah.

Gue bersyukur dulu pernah dibantai habis-habisan waktu pembicaraan perancangan kolom distilasi, atau jam-jam malam yang dilalui waktu ngerancang heat exchanger, atau pusing-pusing yang dilewatin waktu ngeevaluasi kelayakan ekonomi pabrik rancangan waktu RP

Kesimpulan 1: Fokus tergantung permintaan pasar

Well, menurut gue, perbedaan fokus di ketiga negara ini dipengaruhi oleh job-market yang tersedia di tempatnya masing-masing. Mungkin udah banyak yang tahu kalo di Jepang, lo milih perusahaan sekali untuk selamanya. Kebanyakan perusahaan chemicals (dan sejenisnya) di Jepang mengedepankan riset sebagai kekuatan utamanya. Yang bikin produk dari riset termutakhir yang paling diminati.

Belanda juga mirip, kebanyakan lulusan rekayasa proses masuk ke bagian R&D dari perusahaan atau jadi orang yang disuruh mecahin masalah-masalah yang timbul dari operasi tapi harus di-backing sama dasar teoretis yang meyakinkan. Kebanyakan cerita dari praktisi yang kadang mampir ngasih kuliah tamu atau dari dosen isinya tentang perusahaan yang dateng ke mereka buat minta dibikinin model komputasi yang bisa dijadiin dasar pengambilan keputusan perubahan/ optimasi proses. Makanya nggak heran, kebutuhan perusahaan akan insinyur di dua negara tersebut umumnya minimal strata 2. Mereka harus punya dasar riset eksperimental atau simulasi proses yang kuat untuk bisa bekerja di sini.

Di Indonesia, aku nggak yakin ini bener, CMIIW, tapi sepengetahuanku, orang-orang dengan engineering sense yang kuat (yang bisa ngira-ngira butuh alat segede apa buat misahin air sama etanol cuma setelah mikir 5 menit, misalnya) yang lebih dihargai di sini. Kemampuan desain berdasarkan taklid-taklid yang ada dan menghitungnya secara baik adalah bekal paling ajib buat dapet kerjaan sebagai insinyur proses di Indonesia. Maka, cukuplah pendidikan strata satu dengan fokus mendalam pada desain memenuhi kebutuhan mahasiswa pencari kerja di sini. Ini murni pendapat pribadi dari pengamatan, debatable.

 

Kekuasaan Tenaga Pengajar

Gimana sih seorang mahasiswa memandang dosen? Gimana juga dosen memandang mahasiswanya?

Jepang = murid yang baik itu mendengarkan

Gue nggak bisa ngomong banyak buat yang ini, terutama kalo konteksnya pertemuan di kelas. Jujur, interaksi gue dengan dosen waktu di Jepang nggak banyak waktu di kelas. Banyakan sama dosen pembimbing di lab. Tapi yang gue rasa adalah, dosen di Jepang punya kekuasaan yang cukup absolut, terutama di lab-nya. Well, tergantung dosennya juga sih, Sensei gue baik dan demokratis. Tapi yang gue denger, ada yang ngerasa bahwa mau lo punya kewajiban nyelesein penelitian buat tesis lo, kalo Sensei udah bilang “pokoknya kerjain proyek sama perusahaan anu dulu” relakan saja beberapa bulan kelulusan yang tertunda. Di Jepang dulu, gue nggak pernah nemu sistem yang mewadahi mahasiswanya untuk mengevaluasi pengajaran yang udah dilakukan sama dosen. Jadi, murid yang baik itu memang mendenngarkan dan mematuhi Sensei.

Murid yang baik itu memang mendenngarkan dan mematuhi Sensei

Belanda = dosen itu penyedia jasa pengajaran

Denger-denger, salah satu dosen pengajar gue kemaren bakal nggak bisa ngajar lagi karena 3 tahun berturut-turut dapet review jelek dari mahasiswanya. Iya, di Belanda, dosen berusaha keras menyiapkan materi kuliahnya agar bisa terserap dengan baik oleh mahasiswanya, nggak bikin bosen, dan menjamin mahasiswanya punya bekal yang cukup buat ujian. Walaupun di sini terkenal dosen pelit nilai (serius, lo dapet 7 itu harus banyak bersyukur, lulus aja berdarah-darah), tapi kualitas pengajaran selalu dijaga oleh dosen. Kenapa? Karena kalo sampe direview jelek sama mahasiswanya, departemen bisa mencabut kontrak mengajarnya, walhasil hilanglah sumber penghasilannya.

Di TU Delft, terutama yang gue yakin tau di Teknik Kimia, ada semacam board yang terdiri dari perwakilan mahasiswa dan perwakilan dosen yang punya agenda rutin membahas perkembangan perkuliahan di quarter berjalan. Selain itu, departemen juga ngadain faculty lunch di tengah setiap quarter untuk menarik aspirasi dan evaluasi kuliah yang sedang dan udah lewat dari mahasiswa. Di situ, mahasiswa bebas mengungkapkan unek-uneknya atau praise-nya akan mata kuliah (dan/atau dosen) tertentu. Aspirasi itu nggak cuma selewat lalu, tapi beneran diproses oleh departemen untuk jadi acuan pengadaan mata kuliah itu di tahun berikutnya. Bisa aja kita protes mata kuliah A bebannya lebih gede dari SKS yang dikasih, 3 SKS berasa 6 SKS, maka tahun depannya entah kuliahnya dijadiin 6 SKS beneran atau dosennya dipaksa untuk mengurangi beban mata kuliah tersebut biar berimbang sama SKS yang ditawarkan. Dan iya, kalo si dosen ngajarnya jelek, bukan nggak mungkin doi dipecat dan diganti dosen lain tahun depan.

Dan iya, kalo si dosen ngajarnya jelek, bukan nggak mungkin doi dipecat dan diganti dosen lain tahun depan.

Indonesia = evaluasi ada.. yaudah ada aja

Sebenernya agak nggak enak sih mbahasnya, tapi yah, semoga ini cukup bisa dilihat sebagai pandangan yang objektif tanpa baper-baperan. Masih inget kan kalo mau liat nilai di ol.akademik, harus ngisi kuesioner tentang perkuliahan kemaren. Sistem evaluasi berarti punya platform di ITB, tapi yang gue nggak punya data adalah, setelah ada evaluasi itu, implikasi ke pengajaran berikutnya bagaimana. (Untungnya) gue belum pernah denger ada dosen bakal dipecat karena evaluasi perkuliahannya jelek. Gue jadi pengen nyangkutin sama pendapat yang berseliweran di FB: “dosen di Indonesia terlalu murah nilai” (yang iya, gue ngerasa sebenernya gue nggak pantes dapet nilai segitu untuk beberapa mata kuliah.. yang baru kerasa susahnya pas udah di Belanda), jadinya mahasiswa juga “murah nilai”, begitu juga program studi.

Banyak dosen di Teknik Kimia ITB yang keren, yang kalo gue bilang “guru yang sesungguhnya”, yang mana ketika beliau ngajar, gue langsung bisa njentik jari sambil bilang “ooo, ini tuh maksudnya gini.. cara ngitungnya gini”. Yah, nggak semuanya sempurna sih, banyak juga yang susah dimengerti pola penyajian materinya, atau punya ketersinambungan alur pengajaran dengan jeda yang kurang teratur (#kode) jadi susah nyambungin sama kuliah minggu sebelumnya. Gue nggak bilang kalo kita harus menerapkan sistem “evaluasi mahasiswa yang berpengaruh besar” layaknya di Belanda, tapi mengikuti jiwa “memberikan pelayanan pengajaran yang terbaik” yang dimiliki dosen-dosen di TU Delft nggak bakal bikin sakit juga sih.

Gue jadi pengen nyangkutin sama pendapat yang berseliweran di FB: “dosen di Indonesia terlalu murah nilai”

Kesimpulan 2: Jadi dosen yang mau meningkatkan diri dari hasil evaluasi itu nggak sakit kok

Di dunia ini nggak ada yang sempurna. Makanya, semua orang wajib “belajar” atau setidaknya “membuat dirinya lebih baik dari sebelumnya”. Salah satu hal yang bisa memfasilitasi perbaikan itu adalah evaluasi dari lingkungan terdekat. Agak menyimpang dari topik besar, tapi sepengetahuan gue, universitas dengan ranking yang tinggi-tinggi umumnya punya tenaga pengajar yang bermotivasi tinggi, siap memperbaiki diri, dan berusaha keras buat selalu lebih baik dari sebelumnya. Mungkin itu bisa jadi satu resep biar bisa balikin univnya masuk QS big 100 lagi #kode.

 

Segini dulu deh. Udah kepanjangan. Gue juga nggak yakin ada yang mau capek-capek baca beginian. Hahahaha. Yang udah berkenan membaca sampai kalimat ini, makasih banyak. Saran dan kritik (atau protes) siap gue terima. Semoga ada manfaatnya. Gue percaya bahwa setiap hal punya kekurangan dan kelebihan yang terbentuk dari karakter dasar masing-masing hal tersebut. Yang membedakan kenapa hal satu dinilai lebih baik daripada hal lainnya adalah keinginan dari hal itu sendiri untuk memaksimalkan potensinya dan meminimalisasi kekurangannya. Jangan pernah berhenti untuk menjadi lebih baik.

 

Salam, catalystro

Enlightened Indonesia – Tentang Persahabatan dan Kepercayaan

Halo 🙂 lama banget nggak posting
Kali ini saya mau cerita sedikit tentang keluarga saya yang baru, Enlightened Indonesia dan beberapa operasi (OPS) yang dilakuin bareng-bareng sama mereka 🙂

Enlightened Bandung
keluarga paling deket sama saya.. secara 10 dari 12 bulan dalam satu tahun, saya berdomisili di sana 😀
gelo kalo saya disuruh komen tentang mereka 😀
apalagi tim URC, Unit Reaksi Cepat asuhan @KUTUBUSUK yang punya kebijakan ‘we want no blue’.. apalagi L7+.. paling lama hidup 3 jam 😀
masih inget pas tim Resistance Bandung bikin P8, dan saya lagi belajar buat UAS besoknya.. terus pada bilang ga bisa retake..
dan dengan sedikit waswas, saya cabut dari belajar, macu motor ke Maranatha, tempat adanya P8 Resistance itu… daaaaaannnn ternyataaaa.. mereka ngerjain saya -_-.. sesampainya di lokasi, team betmen : @codotzgunung, @DJembodZ, dan @OrangeDragon lagi santai-santai dan ketawa liat saya panik tergopoh-gopoh.. padahal mereka udah ngehancurin dari tadi.. dasaaarr!! wkwk
tim keluarga @Nebiros (ex-@travalgar), @YouKnowMe @OtoriHanzo (+ istrinya @masihgadis yang udah nggak gadis) @Shiyoga dan @Robometeor
tim cewek-cewek sakti @rhinchan @WinterLuna @anniver @ombrecia dan @hellqueen88
tim keluarga bahahahahagia @KUTUBUSUK @Syrene @formium
penjaga timur @neomatrix @cevden @agentfuxx
si ganteng @maruseri.. adek kelas @dzunnurain.. tukang bikin portal sembarangan @posisi69
@RoanCyrus the legend
sesepuh @Berus @Sinistra dan @Karunos @Brehoh
tim sumedang @blueyes @1stman @SuleSule
temen-temen baru @zackpinunggul @TeedZ @wvidelr
daan tim blek blek yang sangar @Blackant dan @Blackonhell
dua ops yang mengena banget sama tim Bandung itu OPS SSO : Semua Salah OrangeDragon :v dan OPS KuihLapis join dengan ENL South East Asia
image

OPS SSO, nutupin Bandung dengan 4 lapis layer yang seru
image

OPS KuihLapis, 14 layer Bandung – Johor Baru + Seremban – Kota Kinabalu + Labuan yang bikin MU global nyentuh 1.7 milyar
dan kayaknya bakal ada banyak lagi ops yang bakal terlaksana sama tim Bandung ini 😀

The Dragon Slayers
denger-denger, tim sebelah menjuluki para L8 dengan julukan naga, jadi.. saya punya julukan buat temen2 ENL ID, Dragon Slayers.. kenapa? karena pada bikin repot si naga-naga itu 😛
koordinasi yang acak tapi rapi.. individualis tapi sinergis.. campuran antara planner, destroyer, large area explorer, dan operator yang unik.. di mana satu sisi rajin melihat potensi field dan mengorganisasi perealisasiannya, satu sisi cermat mengamati pergerakan tim sebelah, satu lagi gesit sampai tujuan dan beraksi cepat
koordinasi ini udah dibuktikan beberapa kali seperti OPS Jade Equator, yang nutup Jakarta dan Jawa Barat dengan total breaking record 124 juta MU
ditambah OPS Lighthouse ID, bagian dari Global OPS Lighthouse yang menggerakkan tim Padang, Lampung, seluruh Jawa, Kalimantan Timur dan Kalimantan Barat, serta Bali
koordinasi yang apik antara tim Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat dan Bali menghasilkan link bersejarah yang menembus tengah Jawa.. Bali menuju Cacaban, Sumedang.. ditambah kerja sama dengan ENL SEA dan ENL Timor Leste, kami menutup Selat Malaka, Selat Sunda, dan Laut Jawa dengan lapisan hijau benderang
image

dan tahun baru ini, dua OPS dilaksanakan, OPS Kembang Api a.k.a Tusuk-Tusuk Gedung Sate di Bandung, dengan 423 link masuk dan 8 link keluar (seblum dihancurkan spoofer, pemain curang yang menggunakan software agar dia bisa memanipulasi tempatnya) menghancurkan portal Gedung Sate yang notabene saat itu sudah ditutup untuk umum karena sudah malam
image

dan OPS Dagadu (yang disambung oleh rekan di Kuching) persembahan tim Jateng DIY, Padang, dan Ujung Genteng sebagai jawaban dari tim sebelah
ops yang menutup sebagian besar Jawa Tengah dan seluruh Jawa Barat ini menghasilkan 4 layer field dengan total 51 juta MU
meskipun beberapa jam setelahnya field juga dihancurkan oleh spoofer, esoknya, field kembali menutupi.. bahkan ditambah dari agent Kuching dengan 5 layer ber-total 125.000.000 MU
image

image

itu sebagian kecil dari banyak OPS yang dibuat oleh rekan-rekan ENL ID
saya senang dan bersyukur bisa bergabung dalam keluarga ini
karena kami bukan sekedar organidasi struktural yang diikat dengan hirarki.. kami adalah gerombolan kumuh yang punya satu hati 🙂
special thanks to agents :
lenolok @Synchrone a.k.a @wrllcwyrlir a.k.a @Gondolaman a.k.a @Singkong a.k.a @Gorgom :v yang kagak ade matinye
makhluk pertama yang ketemu saya di Indonesia @favener a.k.a @papener a.k.a @fave
pemersatu bangsa yang ganteng @Versaill
papi @niceguy, sesepuh @THOMZZ
bli bli @biMp @SuYiX @Maong.. si cantik @Vite dan agen Bali lainnya
tim Jatim @wydag @BuSut @yozelectric @Dedemit @SpellFox @AkaiScarlet @farmizuki @Engridy dan lain-lain
tim Jakarta… bhuanyak banget nih.. the destroyer @cupiiiii (i nya 5), @spartandroid a.k.a @KarlMayer a.k.a @Frankenstein, @papaMaik a.k.a @EternalSun, @caplang, @sapiderman, @rioshiki, @wiggo, @YoshiMura, @2124kk, @allhil @RhasAlGhul, @dianito, grand ancient @kyogoku, @Pane, @monqywarrior, @ArkaDeva, @gingerly, @steamedfish, @valkyrie, @dozvidanja, @JeffMa, @indhia, @sijebat, daaan masih banyak lagi agen Jakarta lain.. saking banyaknya >.< maap ga kesebut semua.. cuma inget yang sering ketemu
tim Padang yang luar biasa, @blackpearl86, @zilizaki, @imanmulder, @macansumatera
tim Gorontalo, @polahi, @lahilote, @NeroDroid, @chrystalist
tim Samarinda @isnuwardhana dan @jarakada.. tim Pontianak @Pendhet
daaann.. masih banyak lagi.. aaaa
happy to be part of you 🙂

Tim Koflaks
makhluk-makhluk ENL Jateng DIY yang… koplak :v nggak ada kata lain..
yang lucu tapi kompak.. koplak tapi gagah
tempat di mana saya merasa punya ‘rumah tawa’ dengan guyonan-guyonan dalam bahasa Jawa yang nggak bisa saya temui di ENL Bandung (yaiyalah :v di sana bahasa Sunda)
bersyukur pernah kerja bareng sesepuh @edsemar dan penjaga Semarang @flamemyst @andrewdwip
agen-agen ngapak @listrik @dpras @defteros @XDboyZ @jamzzz @JustKidZ
kakange Jogja @nimdasx, makhluk terchubby seantero jogja @Pandhawa, tukang jelajah @BangKur21, penjaga Solo @frankwoods dan @fenrir87, para pemudik @SecretFox @kisanaak @SquallBayu @galesh.. daaaaan.. icon Jateng DIY paling ngganthueueueng, @Veidt (don’t even try to open veidt dot com)
dan OPS Dagadu kemaren adalah buah dari kekoflaks an mereka-mereka ini 🙂

itu tadi.. sebagian sangat amat kecil dari keluarga Enlightened Indonesia
yang seperti saya bilang.. unik

kami akan ukir lagi sejarah-sejarah
dan kerja sama dengan ENL Global.. khususnya EMP, ENL SEA

XM for all

catalystro

my other half : catalystro

cheers ^^
it’s been two weeks since my last login.. I’m getting worried about me.. welcome back!!

LOL
if you are an Ingress Player, you should know what I am talking about 😛

in this post, I will tell my story about my other half
the other me who lives in depth of Ingress World
why I consider catalystro is my other half? because in this world, everyone knows me as Dimas Ramadhan Abdillah Fikri.. a fat ball who rolls along the way.. sometimes mess up with foods and lab works.. or just trolling around and makes silly things
but beyond that, I live in other world.. not real world.. a game world called Ingress.. as a strategist, lab-centric, and virus user named catalystro
I tell this story because I will leave my other half birth place : Tokyo soon.. T^T.. this story is mostly about my experience and my respect words to all my friends who had fought together and raised me here..

how did I become catalystro?
so this is my story

start by blog-walking to my friend’s blog : h2cx, and saw post about this augmented reality game
his description about the game made me interested to the game
I am actually a gamer.. but just a normal gamer, not a freak gamer who will spend many hours inside a game
I played RPG games such as FF and Tales before.. I like RPG because it has a story
and this game is just beyond that
in RPG, the story is about the main character of the game.. how does he/she build his/her ability.. and in the end, he/she save the world from the bad boss
this game, however, has a story about YOU.. yep.. you.. because basically the main character that you are playing in this game is yourself
this makes me want to try this game.. I want to be a character in a game.. very much..
then I applied as a beta tester to Ingress site
in 2nd of April 2013, my invitation code came
I am little bit worried that time because this game is only can be played in Android device while I was subscribing iPhone on Japanese Softbank network
fortunately, Softbank had opened tethering mode from its iPhone 5.. and I subscribed that too.. so I tether my iPhone to the biggest Ingress Scanner that could possibly use : Samsung Galaxy Note 10.1.. LOL.. can you imagine playing ingress in 10.1 inch tablet 😛

since that day, i tried to understand the gameplay
hacking, deploying, firing busters, and levelling
firstly, i thought that this game is individual game
but yeah.. i was wrong.. this game is totally social game.. you won’t get more achievement of you play solo
so when I hit COMM and shouted : ‘hello.. new player here ^^ please take care of me’, there were two messages replied mine.. one is from first player that I met : hypercat, and one is from ‘most commenter on my G+’ 😛 syap5yoj ^^
I was so happy that I know I am not alone
that time, I had started to look at Intel map.. searching available playground near me..
i didn’t know how the AP works that time.. i just hacks and firing busters wildly without knowing that busters only work for enemy portals
then when I hit level 2, hypercat wanted to meet me
I met him at Ebisu.. he taught me many basics things including how to levelling fast with resonator defend
luckily, I also meet first other faction player that day : tagoh
he destroyed my portals with his L7 busters (while my resonators were only L2)
so i just ran to that portal and hit deploy as fast as i can.. until my resonators were drained.. lol
and I hit L3 that night.. thanks to tagoh ^^
I also met another green player that night : ShichuanRedPanda he gave me some keys for me to built fields
at that time, the nearest portal from my form is one station from my dorm station
I always went to that station first before going home
after getting L3, I had confidence to do my first attempt to retake portal.. stupid me, they were L5 portal made by L7 player who works near there.. I could retake one but when I tried to take the other down, I ran out of bursters before it was down.. then I had to walk 300 meters to reach nearest portal and prayed that it would give me some bursters.. then.. something happened :
the previous owner of portal attacked the portal that I just took.. so I ran, reach the portal and deployed manh resos as he fired all my resos away..
and that is.. the first time I met one of my bet ingress player friend, tdmkt.. I found him on his phone, and I greeted him.. then we talked (with my very poor Japanese) a little bit, exchange our emails, and made friend ^^.. thanks to him, I got my L4 because of my reso defend when he attacked.. 😛

day by day passed.. there was no day without playing ingress..
before going to campus, when commuting home, or when I found some interesting field to destroy
I joined high level farming for the first time when I was still 6
I met many hiLVL players there.. kirikaze, felice99, tomoya, nag, Athena9800, and SuperAja..

the first big operation for me was “The Green Day”
I was L7 at the moment.. I planned the event via G+ community and boom..
that day maybe was the first day many L8 portals are standing in Tokyo
we met in Azabujuban.. the most portal-condensed area that time.. then went to Shibuya to make it L8s
Shibuya was known as one of Resistance’s headquarter since many Resistance players live there
and that day, the most important portal for Tokyo Resistance : Hope-kun was transformed to be L8 portal for the first time.. by Enlightened players
that day I met Momongadget.. the very first female player that I met (and she was already 8!!), kuroneko007, are te, morirobo, 0zy, and hirotakes
we marched from Azabujuban to Shibuya.. laughed togehter, fight together..
that day I found that Ingress is not just a game.. it is also a very good social media
I was surprized how I got so many friends from this game.. and they are very kind

and at last, I made my 8 while accompanying my friend who came from Korea..
I got my 8 in Tokyo station.. so happy that time

I found that I like to do some experiment for new items
including when virus came out, I think I was the first player who made L8 portal in single name (with virus)
thanks to hiyoko145 who accompany me to try 4 L8 for one L8 portal (with ADA and Jarvis) experiment
and also my dear enemy, alexfcc who give me data for Force Amp and Turret damage calculation

event by event I passed with my Enlightened friends
Ueno farm.. Yasukuni Raid..
all were so much fun
and then The Cross-Faction Meet-up
my last official event in Tokyo

since that day, I barely play aggresively..
I only farm to get as many items as I can get
these item will be brought back to Bandung, Indonesia.. where my friend strugge hard to keep the city green

to all Tokyo players, thank you for all things that you had given to me
you are the best.. friends whom I want to meet again someday
people whom I think as my family here..
I will never forget you all

I will keep being catalystro in my country
with my new friends who also take my arm warmly
without forgetting all things that you, Tokyo players had taught me