sebuah coretan dari pemikiran yang terbuang : tentang keringnya ladang dan sepinya hujan badai

detik itu aku merenung..
membuka lagi lembaran-lembaran cerita tentang keresahan
dan cucuran darah
tentang bagaimana mereka maju menghadang rentetan api setan
yang detik berikutnya telah mengoyak daging mereka

mereka bukan tak punya anak istri
bukan pula tak punya mimpi tentang masa depan yang damai
mencangkul sawah di dekat rumah mereka
dan mendapat sajian kopi hangat dari istri tercinta
tapi apalah arti sebuah keluarga kecil bagi mereka
ketika seluruh bangsa dan negerinya dipertaruhkan
tapi bukan berarti tak peduli dengan kebahagiaan kecil itu
bukankah perjuangan mereka mengusir setan imperialisme itu juga sebuah perjuangan demi melihat kebahagiaan dan kebebasan anak dan istrinya?

kemudian aku menoleh..
melihat kawan-kawanku
yang berjuang dengan jalan mereka masing-masing
terbang
merayap
mengayuh sampan
menulis janji
melukis mimpi
menolong nyawa
menghitung angka
mencipta karya..

lalu kepada kritikus-kritikus handal
yang selalu pesimis tentang pemuda harapannya

sebegitukah buruknya kami, Bapak? Ibu?
generasi muda kalian ini..
hingga selalu saja kami disalahkan
dipertanyakan
tentang betapa buruknya kami
betapa malasnya kami

TAPI APA KALIAN TIDAK MELIHAT??!

butir-butir yang kalian lupakan
benih-benih emas yang kalian campakkan

para pejuang handal di antara kami..
yang sangat mengharapkan bisa membagi benih padi unggul yang mereka miliki
dan menanam di tanah negeri
tapi apa
tak ada satupun tetes hujan membasahi
atau pupuk yang merestui
bahkan tanah yang siap ditanami..

sampai akhirnya
para pemimpin garis depan kami
meronta
membusuk
sampai datang uluran tangan panti asuhan baru
yang menawarkan kesegaran air gunung salju
dan melimpahnya gandum

pantaskah kalian menyalahkan kami?
hanya kami?
dan teman-teman kami?

jika yang kalian lihat saat ini
bukanlah jenderal berbaju zirah tebal
dan pedang terhunus tajam
tapi budak-budak suruhan
yang bahkan tak tahu bagaimana cara membawa peti makanan?

tidakkah kalian berkaca?
mengapa mereka harus angkat kaki?
mengapa mereka harus terbang lebih tinggi?

itu karena kalian mengusir mereka..
mencampakkan mereka
membuang harapan mereka
menguras habis tenaga mereka
kemudian menyedot nutrisi mereka
pelan.. dan kalian ambil untuk makan pagi kalian

tapi ingatlah..
kami bukan orang bodoh
bukan orang durhaka
yang tidak ingat siapa kami
atau siapa bapak kami
kami ingin
sangat ingin
mengangkat batu prasasti kemenangan bersamamu
di tanah kami
tanah kita

bukan gumpalan lumpur yang mereka sebut negara..

kepada barisan pemuda
yang mengumpulkan bekal di rerumputan di balik bukit kita
dan kepada pemegang kuasa
yang belum sadar apa yang mereka perbuat kepada kami

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s