Pendidikan Teknik Kimia Tiga Rasa

Hai.. udah luamaa banget kagak nulis, terus tiba-tiba tulisannya serius gini.. (minta dibacok) hhahaha.. iseng aja sih

TL;DR; tulisan ini sekedar keisengan pengen berbagi pandangan secuil manusia ini tentang pendidikan Teknik Kimia di tiga universitas (yang terletak di tiga negara) berbeda: Institut Teknologi Bandung (QS Rank 2016 = nggak ada di 100 besar jadi nggak muncul), Tokyo Institute of Technology (QS Rank 2016 = 23), dan Delft Technology University (QS Rank 2016 = 6).. Apa yang berbeda dari ketiganya, dan bagaimana kita (mungkin) bisa belajar dari perbedaan-perbedaan itu? Semoga bermanfaat

 

Fokus

Mulai dari perbedaan yang paling mencolok: fokus pendidikannya. Well, ini agak nggak apple-to-apple karena perbedaan strata pendidikan yang gue ambil di ketiga universitas tersebut (B.Sc. di ITB, Exchange di TIT, dan M.Sc. di TUD), tapi bisa lah feature besarnya kebayang dari apa yang sempet gue rasain.

Jepang = Research

Di TIT, research adalah segalanya. Ya, mungkin ini kerasa karena pas itu gue jadi anak exchange ecek-ecek, tapi berdasarkan ngobrol-ngobrol sama temen seperjuangan yang pada saat itu ngambil S2 atau S3, mereka setuju bahwa di Jepang research project lebih penting daripada pelajaran di kelas. Sistem di sana adalah kuliah = ke lab, ngerjain penelitian, kalo ada kelas baru nyuri waktu ke sana. Kelasnya sendiri, maaf, agak nggak worth. Mungkin karena gue anak exchange internasional kali ya.. jadi nggak sempet ngerasain kelas yang beneran.. tapi kelas yang gue ikutin waktu itu (yang notabene adalah kelas buat anak master internasional, soalnya itu doank yang pake bahasa Inggris.. mati aje kalo suruh belajar pake bahasa Jepang full) nggak terlalu signifikan pengaruhnya sama ilmu yang gue punya. Kebanyakan kelasnya udah gue dapet ilmunya di ITB (yang itu strata S1). Dosennya juga nggak terlalu keliatan niat untuk ngajar (mungkin karena kelas internasional yang memaksa mereka buat ngajar dalam English).

Yah, walopun kelasnya gitu, penelitian di sana kuenceng. Alat semua tersedia dengan enak: pada saat itu gue penelitian tentang fermentasi yang tentu saja membutuhkan autoclave buat mensterilisasi alat-alat. Nah, denger2 di jurusan sebelah himpunan (mikrobiologi ITB, red.), kalo mau make autoclave harus ngantri bisa sampe dua tiga hari, sedangkan di TIT, ngantrinya cuma sama anak se-lab aja yang berarti paling lama juga nunggu 3 jam.

Topik penelitian di TIT udah bergeser dari “optimasi produk/proses” ke “pengolahan lanjut/pengurangan limbah proses”. Itu yang bikin gue, anak Indonesia yang masih mencari-cari optimasi proses, agak susah nyari topik lanjutan di sana. Penelitiannya kebanyakan nggak bisa diimplementasikan di Indonesia secara langsung karena ya emang kejarannya beda.

Di Jepang, kuliah = ke lab, ngerjain penelitian, kalo ada kelas baru nyuri waktu ke sana

Belanda = (Mathematically-expressed) Basic Theoretical Approach

Hal yang paling bikin gue tertampar ketika menginjakkan kaki di Departement of Chemical Engineering, TU Delft adalah: “gue goblok banget matematikanya”. Beda dengan Jepang yang banyak fokus ke penelitian, di Belanda pelajaran di kelas nggak kalah penting dari penelitian. Kasus untuk anak master di sini, lama studi dua tahun, tahun pertama dihajar sama teori dan kengerian-kengerian persamaan baru tahun kedua diimplikasikan ke penelitian (yang juga banyak fokus ke arah teori dasar dan penjabarannya secara matematis).

Gue nggak bisa ngomong tentang penelitian di sini saat tulisan ini dibuat, karena emang gue belum ngalamin. Ini masih tahun pertama gue, di mana Navier-Stokes adalah makanan sehari-hari gue dan Matlab serta ANSYS adalah teman makan yang selalu setia menemani.

Di tahun pertama, ujian itu udah kayak snack. Hal pertama yang gue denger setelah 15 menit pertama kuliah pertama gue di kampus ini adalah: minggu depan hari Kamis udah ujian modul satu. WHAT??!! Di sisi lain dunia (jurusan-jurusan TU Delft yang lain), mereka cerita minggu pertama yang diisi dengan ekskursi ke pabrik. Erm..

Oiya, di sini sistemnya quarter (3 bulan, jadi setahun ada 4 quarter), satu quarter rata-rata diisi 15-20 ECTS (SKS) yang kalo diterjemahkan jadi 3-4 mata kuliah seminggu selama 3 bulan. Kebanyakan mata kuliahnya punya sistem ujian yang nggak cuma sekali di tengah dan sekali di akhir, tapi bisa dalam bentuk ujian modul yang datang 3 minggu sekali, kalo nggak tugas (dengan software matematika layaknya Matlab ato ANSYS) yang dikumpulin seminggu sekali. Yah, buat anak Himatek ITB, bisa dibilang udah jauh-jauh nyeberang lautan dapetnya sama-sama aja: ujian tiada akhir.

Balik ke premis di kalimat pertama dalam section ini: “gue goblok banget matematikanya”. Kenapa gue bisa tertampar seperti itu? Karena emang gue ngerasa matematika yang gue pelajari di S1 kurang banget buat menghadapi kuliah-kuliah di sini. Ya, mungkin karena guenya yang kurang bisa menyerap kuliah Peristiwa Perpindahan dengan baik, atau meleng waktu Komputasi Proses, tapi tetep gue merasa ada dasar-dasar penjabaran fenomena fisik dalam persamaan matematika yang kurang begitu dieksplor waktu gue di Indonesia dulu.

Di sini semua back to basic, segala peristiwa (reaksi terkatalisis, distilasi, bahkan perpindahan panas) dijabarkan dengan persamaan dasar yang, menurut gue, menjadikan teknik kimia itu teknik kimia: Navier Stokes (yah, walopun anak penerbangan juga make sih). Gue mengalami masalah yang cukup signifikan untuk sekedar bikin deskripsi matematis water droplet yang nggantung di ujung dinding, buat nantinya diliat gaya apa aja yang mempengaruhi gerakan water droplet tersebut setelah beberapa saat. Untungnya dosen di sini cukup mumpuni (dan sabar) untuk ngajarin makhuk kayak gue.

Hal yang paling bikin gue tertampar ketika menginjakkan kaki di Departement of Chemical Engineering, TU Delft adalah: “gue goblok banget matematikanya”.

Indonesia = Ibu Jari Ajaib

Ada yang berpikir bahwa di bagian Indonesia ini gue bakal ngomongin bahwa sistem dan kurikulum di Indonesia itu jelek, nggak kayak Jepang ato Belanda, dsb, bahwa kita nggak punya apa2 buat dibanggain sebagai anak Teknik Kimia di Indonesia? Alhamdulillah kalo nggak ada. Karena emang gue menemukan satu hal yang gue bisa cukup bangga karena (terlihat) agak lebih bisa daripada anak-anak Belanda: desain.

Gue cukup bersyukur karena (seperasaan gue) Teknik Kimia di Indonesia (ITB, red.) punya fokus di desain (terutama proses). Gue bersyukur dulu pernah dibantai habis-habisan waktu pembicaraan perancangan kolom distilasi, atau jam-jam malam yang dilalui waktu ngerancang heat exchanger, atau pusing-pusing yang dilewatin waktu ngeevaluasi kelayakan ekonomi pabrik rancangan waktu RP (Rancang Pabrik, red.) yang turns out kagak bisa balik modal. Hhhaha. Ternyata basis desain (proses, equipment) nggak terlalu ditekankan di strata satu pendidikan Belanda.

Waktu dapet kuliah tentang bikin HEN (Heat Exchanger Network, red.), gue langsung inget pelajaran Perancangan Proses, dan waktu gue ngelirik temen sebelah gue yang plonga-plongo, gue langsung tau jawaban yang dia kasih ke gue waktu gue nanya “belum pernah belajar ini di S1?” Penanaman logika heuristik tentang dasar-dasar perancangan (e.g. pemisahan diprioritaskan dari yang udah ada beda fasa baru yang ke satu fasa, pemisahan satu fasa untuk liquid diutamakan distilasi, baru ekstraksi, baru absorpsi, kapan milih make plug flow, kapan pilih continuous stirred tank) yang gue alami di ITB kerasa banget kuatnya waktu gue ngikutin mata kuliah rancang pabrik (iya, gue rancang pabrik lagi di sini). Dan itu adalah nilai plus gue dibanding sama temen sekelompok gue (iya, rancang pabriknya berkelompok lagi, tapi berenam, nggak cuma bertiga) yang bisa dengan lebih enak ngertiin logika2 heuristik yang disajiin di slide kuliah.

Gue bersyukur dulu pernah dibantai habis-habisan waktu pembicaraan perancangan kolom distilasi, atau jam-jam malam yang dilalui waktu ngerancang heat exchanger, atau pusing-pusing yang dilewatin waktu ngeevaluasi kelayakan ekonomi pabrik rancangan waktu RP

Kesimpulan 1: Fokus tergantung permintaan pasar

Well, menurut gue, perbedaan fokus di ketiga negara ini dipengaruhi oleh job-market yang tersedia di tempatnya masing-masing. Mungkin udah banyak yang tahu kalo di Jepang, lo milih perusahaan sekali untuk selamanya. Kebanyakan perusahaan chemicals (dan sejenisnya) di Jepang mengedepankan riset sebagai kekuatan utamanya. Yang bikin produk dari riset termutakhir yang paling diminati.

Belanda juga mirip, kebanyakan lulusan rekayasa proses masuk ke bagian R&D dari perusahaan atau jadi orang yang disuruh mecahin masalah-masalah yang timbul dari operasi tapi harus di-backing sama dasar teoretis yang meyakinkan. Kebanyakan cerita dari praktisi yang kadang mampir ngasih kuliah tamu atau dari dosen isinya tentang perusahaan yang dateng ke mereka buat minta dibikinin model komputasi yang bisa dijadiin dasar pengambilan keputusan perubahan/ optimasi proses. Makanya nggak heran, kebutuhan perusahaan akan insinyur di dua negara tersebut umumnya minimal strata 2. Mereka harus punya dasar riset eksperimental atau simulasi proses yang kuat untuk bisa bekerja di sini.

Di Indonesia, aku nggak yakin ini bener, CMIIW, tapi sepengetahuanku, orang-orang dengan engineering sense yang kuat (yang bisa ngira-ngira butuh alat segede apa buat misahin air sama etanol cuma setelah mikir 5 menit, misalnya) yang lebih dihargai di sini. Kemampuan desain berdasarkan taklid-taklid yang ada dan menghitungnya secara baik adalah bekal paling ajib buat dapet kerjaan sebagai insinyur proses di Indonesia. Maka, cukuplah pendidikan strata satu dengan fokus mendalam pada desain memenuhi kebutuhan mahasiswa pencari kerja di sini. Ini murni pendapat pribadi dari pengamatan, debatable.

 

Kekuasaan Tenaga Pengajar

Gimana sih seorang mahasiswa memandang dosen? Gimana juga dosen memandang mahasiswanya?

Jepang = murid yang baik itu mendengarkan

Gue nggak bisa ngomong banyak buat yang ini, terutama kalo konteksnya pertemuan di kelas. Jujur, interaksi gue dengan dosen waktu di Jepang nggak banyak waktu di kelas. Banyakan sama dosen pembimbing di lab. Tapi yang gue rasa adalah, dosen di Jepang punya kekuasaan yang cukup absolut, terutama di lab-nya. Well, tergantung dosennya juga sih, Sensei gue baik dan demokratis. Tapi yang gue denger, ada yang ngerasa bahwa mau lo punya kewajiban nyelesein penelitian buat tesis lo, kalo Sensei udah bilang “pokoknya kerjain proyek sama perusahaan anu dulu” relakan saja beberapa bulan kelulusan yang tertunda. Di Jepang dulu, gue nggak pernah nemu sistem yang mewadahi mahasiswanya untuk mengevaluasi pengajaran yang udah dilakukan sama dosen. Jadi, murid yang baik itu memang mendenngarkan dan mematuhi Sensei.

Murid yang baik itu memang mendenngarkan dan mematuhi Sensei

Belanda = dosen itu penyedia jasa pengajaran

Denger-denger, salah satu dosen pengajar gue kemaren bakal nggak bisa ngajar lagi karena 3 tahun berturut-turut dapet review jelek dari mahasiswanya. Iya, di Belanda, dosen berusaha keras menyiapkan materi kuliahnya agar bisa terserap dengan baik oleh mahasiswanya, nggak bikin bosen, dan menjamin mahasiswanya punya bekal yang cukup buat ujian. Walaupun di sini terkenal dosen pelit nilai (serius, lo dapet 7 itu harus banyak bersyukur, lulus aja berdarah-darah), tapi kualitas pengajaran selalu dijaga oleh dosen. Kenapa? Karena kalo sampe direview jelek sama mahasiswanya, departemen bisa mencabut kontrak mengajarnya, walhasil hilanglah sumber penghasilannya.

Di TU Delft, terutama yang gue yakin tau di Teknik Kimia, ada semacam board yang terdiri dari perwakilan mahasiswa dan perwakilan dosen yang punya agenda rutin membahas perkembangan perkuliahan di quarter berjalan. Selain itu, departemen juga ngadain faculty lunch di tengah setiap quarter untuk menarik aspirasi dan evaluasi kuliah yang sedang dan udah lewat dari mahasiswa. Di situ, mahasiswa bebas mengungkapkan unek-uneknya atau praise-nya akan mata kuliah (dan/atau dosen) tertentu. Aspirasi itu nggak cuma selewat lalu, tapi beneran diproses oleh departemen untuk jadi acuan pengadaan mata kuliah itu di tahun berikutnya. Bisa aja kita protes mata kuliah A bebannya lebih gede dari SKS yang dikasih, 3 SKS berasa 6 SKS, maka tahun depannya entah kuliahnya dijadiin 6 SKS beneran atau dosennya dipaksa untuk mengurangi beban mata kuliah tersebut biar berimbang sama SKS yang ditawarkan. Dan iya, kalo si dosen ngajarnya jelek, bukan nggak mungkin doi dipecat dan diganti dosen lain tahun depan.

Dan iya, kalo si dosen ngajarnya jelek, bukan nggak mungkin doi dipecat dan diganti dosen lain tahun depan.

Indonesia = evaluasi ada.. yaudah ada aja

Sebenernya agak nggak enak sih mbahasnya, tapi yah, semoga ini cukup bisa dilihat sebagai pandangan yang objektif tanpa baper-baperan. Masih inget kan kalo mau liat nilai di ol.akademik, harus ngisi kuesioner tentang perkuliahan kemaren. Sistem evaluasi berarti punya platform di ITB, tapi yang gue nggak punya data adalah, setelah ada evaluasi itu, implikasi ke pengajaran berikutnya bagaimana. (Untungnya) gue belum pernah denger ada dosen bakal dipecat karena evaluasi perkuliahannya jelek. Gue jadi pengen nyangkutin sama pendapat yang berseliweran di FB: “dosen di Indonesia terlalu murah nilai” (yang iya, gue ngerasa sebenernya gue nggak pantes dapet nilai segitu untuk beberapa mata kuliah.. yang baru kerasa susahnya pas udah di Belanda), jadinya mahasiswa juga “murah nilai”, begitu juga program studi.

Banyak dosen di Teknik Kimia ITB yang keren, yang kalo gue bilang “guru yang sesungguhnya”, yang mana ketika beliau ngajar, gue langsung bisa njentik jari sambil bilang “ooo, ini tuh maksudnya gini.. cara ngitungnya gini”. Yah, nggak semuanya sempurna sih, banyak juga yang susah dimengerti pola penyajian materinya, atau punya ketersinambungan alur pengajaran dengan jeda yang kurang teratur (#kode) jadi susah nyambungin sama kuliah minggu sebelumnya. Gue nggak bilang kalo kita harus menerapkan sistem “evaluasi mahasiswa yang berpengaruh besar” layaknya di Belanda, tapi mengikuti jiwa “memberikan pelayanan pengajaran yang terbaik” yang dimiliki dosen-dosen di TU Delft nggak bakal bikin sakit juga sih.

Gue jadi pengen nyangkutin sama pendapat yang berseliweran di FB: “dosen di Indonesia terlalu murah nilai”

Kesimpulan 2: Jadi dosen yang mau meningkatkan diri dari hasil evaluasi itu nggak sakit kok

Di dunia ini nggak ada yang sempurna. Makanya, semua orang wajib “belajar” atau setidaknya “membuat dirinya lebih baik dari sebelumnya”. Salah satu hal yang bisa memfasilitasi perbaikan itu adalah evaluasi dari lingkungan terdekat. Agak menyimpang dari topik besar, tapi sepengetahuan gue, universitas dengan ranking yang tinggi-tinggi umumnya punya tenaga pengajar yang bermotivasi tinggi, siap memperbaiki diri, dan berusaha keras buat selalu lebih baik dari sebelumnya. Mungkin itu bisa jadi satu resep biar bisa balikin univnya masuk QS big 100 lagi #kode.

 

Segini dulu deh. Udah kepanjangan. Gue juga nggak yakin ada yang mau capek-capek baca beginian. Hahahaha. Yang udah berkenan membaca sampai kalimat ini, makasih banyak. Saran dan kritik (atau protes) siap gue terima. Semoga ada manfaatnya. Gue percaya bahwa setiap hal punya kekurangan dan kelebihan yang terbentuk dari karakter dasar masing-masing hal tersebut. Yang membedakan kenapa hal satu dinilai lebih baik daripada hal lainnya adalah keinginan dari hal itu sendiri untuk memaksimalkan potensinya dan meminimalisasi kekurangannya. Jangan pernah berhenti untuk menjadi lebih baik.

 

Salam, catalystro

One thought on “Pendidikan Teknik Kimia Tiga Rasa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s