Pendidikan Teknik Kimia Tiga Rasa

Hai.. udah luamaa banget kagak nulis, terus tiba-tiba tulisannya serius gini.. (minta dibacok) hhahaha.. iseng aja sih

TL;DR; tulisan ini sekedar keisengan pengen berbagi pandangan secuil manusia ini tentang pendidikan Teknik Kimia di tiga universitas (yang terletak di tiga negara) berbeda: Institut Teknologi Bandung (QS Rank 2016 = nggak ada di 100 besar jadi nggak muncul), Tokyo Institute of Technology (QS Rank 2016 = 23), dan Delft Technology University (QS Rank 2016 = 6).. Apa yang berbeda dari ketiganya, dan bagaimana kita (mungkin) bisa belajar dari perbedaan-perbedaan itu? Semoga bermanfaat

 

Fokus

Mulai dari perbedaan yang paling mencolok: fokus pendidikannya. Well, ini agak nggak apple-to-apple karena perbedaan strata pendidikan yang gue ambil di ketiga universitas tersebut (B.Sc. di ITB, Exchange di TIT, dan M.Sc. di TUD), tapi bisa lah feature besarnya kebayang dari apa yang sempet gue rasain.

Jepang = Research

Di TIT, research adalah segalanya. Ya, mungkin ini kerasa karena pas itu gue jadi anak exchange ecek-ecek, tapi berdasarkan ngobrol-ngobrol sama temen seperjuangan yang pada saat itu ngambil S2 atau S3, mereka setuju bahwa di Jepang research project lebih penting daripada pelajaran di kelas. Sistem di sana adalah kuliah = ke lab, ngerjain penelitian, kalo ada kelas baru nyuri waktu ke sana. Kelasnya sendiri, maaf, agak nggak worth. Mungkin karena gue anak exchange internasional kali ya.. jadi nggak sempet ngerasain kelas yang beneran.. tapi kelas yang gue ikutin waktu itu (yang notabene adalah kelas buat anak master internasional, soalnya itu doank yang pake bahasa Inggris.. mati aje kalo suruh belajar pake bahasa Jepang full) nggak terlalu signifikan pengaruhnya sama ilmu yang gue punya. Kebanyakan kelasnya udah gue dapet ilmunya di ITB (yang itu strata S1). Dosennya juga nggak terlalu keliatan niat untuk ngajar (mungkin karena kelas internasional yang memaksa mereka buat ngajar dalam English).

Yah, walopun kelasnya gitu, penelitian di sana kuenceng. Alat semua tersedia dengan enak: pada saat itu gue penelitian tentang fermentasi yang tentu saja membutuhkan autoclave buat mensterilisasi alat-alat. Nah, denger2 di jurusan sebelah himpunan (mikrobiologi ITB, red.), kalo mau make autoclave harus ngantri bisa sampe dua tiga hari, sedangkan di TIT, ngantrinya cuma sama anak se-lab aja yang berarti paling lama juga nunggu 3 jam.

Topik penelitian di TIT udah bergeser dari “optimasi produk/proses” ke “pengolahan lanjut/pengurangan limbah proses”. Itu yang bikin gue, anak Indonesia yang masih mencari-cari optimasi proses, agak susah nyari topik lanjutan di sana. Penelitiannya kebanyakan nggak bisa diimplementasikan di Indonesia secara langsung karena ya emang kejarannya beda.

Di Jepang, kuliah = ke lab, ngerjain penelitian, kalo ada kelas baru nyuri waktu ke sana

Belanda = (Mathematically-expressed) Basic Theoretical Approach

Hal yang paling bikin gue tertampar ketika menginjakkan kaki di Departement of Chemical Engineering, TU Delft adalah: “gue goblok banget matematikanya”. Beda dengan Jepang yang banyak fokus ke penelitian, di Belanda pelajaran di kelas nggak kalah penting dari penelitian. Kasus untuk anak master di sini, lama studi dua tahun, tahun pertama dihajar sama teori dan kengerian-kengerian persamaan baru tahun kedua diimplikasikan ke penelitian (yang juga banyak fokus ke arah teori dasar dan penjabarannya secara matematis).

Gue nggak bisa ngomong tentang penelitian di sini saat tulisan ini dibuat, karena emang gue belum ngalamin. Ini masih tahun pertama gue, di mana Navier-Stokes adalah makanan sehari-hari gue dan Matlab serta ANSYS adalah teman makan yang selalu setia menemani.

Di tahun pertama, ujian itu udah kayak snack. Hal pertama yang gue denger setelah 15 menit pertama kuliah pertama gue di kampus ini adalah: minggu depan hari Kamis udah ujian modul satu. WHAT??!! Di sisi lain dunia (jurusan-jurusan TU Delft yang lain), mereka cerita minggu pertama yang diisi dengan ekskursi ke pabrik. Erm..

Oiya, di sini sistemnya quarter (3 bulan, jadi setahun ada 4 quarter), satu quarter rata-rata diisi 15-20 ECTS (SKS) yang kalo diterjemahkan jadi 3-4 mata kuliah seminggu selama 3 bulan. Kebanyakan mata kuliahnya punya sistem ujian yang nggak cuma sekali di tengah dan sekali di akhir, tapi bisa dalam bentuk ujian modul yang datang 3 minggu sekali, kalo nggak tugas (dengan software matematika layaknya Matlab ato ANSYS) yang dikumpulin seminggu sekali. Yah, buat anak Himatek ITB, bisa dibilang udah jauh-jauh nyeberang lautan dapetnya sama-sama aja: ujian tiada akhir.

Balik ke premis di kalimat pertama dalam section ini: “gue goblok banget matematikanya”. Kenapa gue bisa tertampar seperti itu? Karena emang gue ngerasa matematika yang gue pelajari di S1 kurang banget buat menghadapi kuliah-kuliah di sini. Ya, mungkin karena guenya yang kurang bisa menyerap kuliah Peristiwa Perpindahan dengan baik, atau meleng waktu Komputasi Proses, tapi tetep gue merasa ada dasar-dasar penjabaran fenomena fisik dalam persamaan matematika yang kurang begitu dieksplor waktu gue di Indonesia dulu.

Di sini semua back to basic, segala peristiwa (reaksi terkatalisis, distilasi, bahkan perpindahan panas) dijabarkan dengan persamaan dasar yang, menurut gue, menjadikan teknik kimia itu teknik kimia: Navier Stokes (yah, walopun anak penerbangan juga make sih). Gue mengalami masalah yang cukup signifikan untuk sekedar bikin deskripsi matematis water droplet yang nggantung di ujung dinding, buat nantinya diliat gaya apa aja yang mempengaruhi gerakan water droplet tersebut setelah beberapa saat. Untungnya dosen di sini cukup mumpuni (dan sabar) untuk ngajarin makhuk kayak gue.

Hal yang paling bikin gue tertampar ketika menginjakkan kaki di Departement of Chemical Engineering, TU Delft adalah: “gue goblok banget matematikanya”.

Indonesia = Ibu Jari Ajaib

Ada yang berpikir bahwa di bagian Indonesia ini gue bakal ngomongin bahwa sistem dan kurikulum di Indonesia itu jelek, nggak kayak Jepang ato Belanda, dsb, bahwa kita nggak punya apa2 buat dibanggain sebagai anak Teknik Kimia di Indonesia? Alhamdulillah kalo nggak ada. Karena emang gue menemukan satu hal yang gue bisa cukup bangga karena (terlihat) agak lebih bisa daripada anak-anak Belanda: desain.

Gue cukup bersyukur karena (seperasaan gue) Teknik Kimia di Indonesia (ITB, red.) punya fokus di desain (terutama proses). Gue bersyukur dulu pernah dibantai habis-habisan waktu pembicaraan perancangan kolom distilasi, atau jam-jam malam yang dilalui waktu ngerancang heat exchanger, atau pusing-pusing yang dilewatin waktu ngeevaluasi kelayakan ekonomi pabrik rancangan waktu RP (Rancang Pabrik, red.) yang turns out kagak bisa balik modal. Hhhaha. Ternyata basis desain (proses, equipment) nggak terlalu ditekankan di strata satu pendidikan Belanda.

Waktu dapet kuliah tentang bikin HEN (Heat Exchanger Network, red.), gue langsung inget pelajaran Perancangan Proses, dan waktu gue ngelirik temen sebelah gue yang plonga-plongo, gue langsung tau jawaban yang dia kasih ke gue waktu gue nanya “belum pernah belajar ini di S1?” Penanaman logika heuristik tentang dasar-dasar perancangan (e.g. pemisahan diprioritaskan dari yang udah ada beda fasa baru yang ke satu fasa, pemisahan satu fasa untuk liquid diutamakan distilasi, baru ekstraksi, baru absorpsi, kapan milih make plug flow, kapan pilih continuous stirred tank) yang gue alami di ITB kerasa banget kuatnya waktu gue ngikutin mata kuliah rancang pabrik (iya, gue rancang pabrik lagi di sini). Dan itu adalah nilai plus gue dibanding sama temen sekelompok gue (iya, rancang pabriknya berkelompok lagi, tapi berenam, nggak cuma bertiga) yang bisa dengan lebih enak ngertiin logika2 heuristik yang disajiin di slide kuliah.

Gue bersyukur dulu pernah dibantai habis-habisan waktu pembicaraan perancangan kolom distilasi, atau jam-jam malam yang dilalui waktu ngerancang heat exchanger, atau pusing-pusing yang dilewatin waktu ngeevaluasi kelayakan ekonomi pabrik rancangan waktu RP

Kesimpulan 1: Fokus tergantung permintaan pasar

Well, menurut gue, perbedaan fokus di ketiga negara ini dipengaruhi oleh job-market yang tersedia di tempatnya masing-masing. Mungkin udah banyak yang tahu kalo di Jepang, lo milih perusahaan sekali untuk selamanya. Kebanyakan perusahaan chemicals (dan sejenisnya) di Jepang mengedepankan riset sebagai kekuatan utamanya. Yang bikin produk dari riset termutakhir yang paling diminati.

Belanda juga mirip, kebanyakan lulusan rekayasa proses masuk ke bagian R&D dari perusahaan atau jadi orang yang disuruh mecahin masalah-masalah yang timbul dari operasi tapi harus di-backing sama dasar teoretis yang meyakinkan. Kebanyakan cerita dari praktisi yang kadang mampir ngasih kuliah tamu atau dari dosen isinya tentang perusahaan yang dateng ke mereka buat minta dibikinin model komputasi yang bisa dijadiin dasar pengambilan keputusan perubahan/ optimasi proses. Makanya nggak heran, kebutuhan perusahaan akan insinyur di dua negara tersebut umumnya minimal strata 2. Mereka harus punya dasar riset eksperimental atau simulasi proses yang kuat untuk bisa bekerja di sini.

Di Indonesia, aku nggak yakin ini bener, CMIIW, tapi sepengetahuanku, orang-orang dengan engineering sense yang kuat (yang bisa ngira-ngira butuh alat segede apa buat misahin air sama etanol cuma setelah mikir 5 menit, misalnya) yang lebih dihargai di sini. Kemampuan desain berdasarkan taklid-taklid yang ada dan menghitungnya secara baik adalah bekal paling ajib buat dapet kerjaan sebagai insinyur proses di Indonesia. Maka, cukuplah pendidikan strata satu dengan fokus mendalam pada desain memenuhi kebutuhan mahasiswa pencari kerja di sini. Ini murni pendapat pribadi dari pengamatan, debatable.

 

Kekuasaan Tenaga Pengajar

Gimana sih seorang mahasiswa memandang dosen? Gimana juga dosen memandang mahasiswanya?

Jepang = murid yang baik itu mendengarkan

Gue nggak bisa ngomong banyak buat yang ini, terutama kalo konteksnya pertemuan di kelas. Jujur, interaksi gue dengan dosen waktu di Jepang nggak banyak waktu di kelas. Banyakan sama dosen pembimbing di lab. Tapi yang gue rasa adalah, dosen di Jepang punya kekuasaan yang cukup absolut, terutama di lab-nya. Well, tergantung dosennya juga sih, Sensei gue baik dan demokratis. Tapi yang gue denger, ada yang ngerasa bahwa mau lo punya kewajiban nyelesein penelitian buat tesis lo, kalo Sensei udah bilang “pokoknya kerjain proyek sama perusahaan anu dulu” relakan saja beberapa bulan kelulusan yang tertunda. Di Jepang dulu, gue nggak pernah nemu sistem yang mewadahi mahasiswanya untuk mengevaluasi pengajaran yang udah dilakukan sama dosen. Jadi, murid yang baik itu memang mendenngarkan dan mematuhi Sensei.

Murid yang baik itu memang mendenngarkan dan mematuhi Sensei

Belanda = dosen itu penyedia jasa pengajaran

Denger-denger, salah satu dosen pengajar gue kemaren bakal nggak bisa ngajar lagi karena 3 tahun berturut-turut dapet review jelek dari mahasiswanya. Iya, di Belanda, dosen berusaha keras menyiapkan materi kuliahnya agar bisa terserap dengan baik oleh mahasiswanya, nggak bikin bosen, dan menjamin mahasiswanya punya bekal yang cukup buat ujian. Walaupun di sini terkenal dosen pelit nilai (serius, lo dapet 7 itu harus banyak bersyukur, lulus aja berdarah-darah), tapi kualitas pengajaran selalu dijaga oleh dosen. Kenapa? Karena kalo sampe direview jelek sama mahasiswanya, departemen bisa mencabut kontrak mengajarnya, walhasil hilanglah sumber penghasilannya.

Di TU Delft, terutama yang gue yakin tau di Teknik Kimia, ada semacam board yang terdiri dari perwakilan mahasiswa dan perwakilan dosen yang punya agenda rutin membahas perkembangan perkuliahan di quarter berjalan. Selain itu, departemen juga ngadain faculty lunch di tengah setiap quarter untuk menarik aspirasi dan evaluasi kuliah yang sedang dan udah lewat dari mahasiswa. Di situ, mahasiswa bebas mengungkapkan unek-uneknya atau praise-nya akan mata kuliah (dan/atau dosen) tertentu. Aspirasi itu nggak cuma selewat lalu, tapi beneran diproses oleh departemen untuk jadi acuan pengadaan mata kuliah itu di tahun berikutnya. Bisa aja kita protes mata kuliah A bebannya lebih gede dari SKS yang dikasih, 3 SKS berasa 6 SKS, maka tahun depannya entah kuliahnya dijadiin 6 SKS beneran atau dosennya dipaksa untuk mengurangi beban mata kuliah tersebut biar berimbang sama SKS yang ditawarkan. Dan iya, kalo si dosen ngajarnya jelek, bukan nggak mungkin doi dipecat dan diganti dosen lain tahun depan.

Dan iya, kalo si dosen ngajarnya jelek, bukan nggak mungkin doi dipecat dan diganti dosen lain tahun depan.

Indonesia = evaluasi ada.. yaudah ada aja

Sebenernya agak nggak enak sih mbahasnya, tapi yah, semoga ini cukup bisa dilihat sebagai pandangan yang objektif tanpa baper-baperan. Masih inget kan kalo mau liat nilai di ol.akademik, harus ngisi kuesioner tentang perkuliahan kemaren. Sistem evaluasi berarti punya platform di ITB, tapi yang gue nggak punya data adalah, setelah ada evaluasi itu, implikasi ke pengajaran berikutnya bagaimana. (Untungnya) gue belum pernah denger ada dosen bakal dipecat karena evaluasi perkuliahannya jelek. Gue jadi pengen nyangkutin sama pendapat yang berseliweran di FB: “dosen di Indonesia terlalu murah nilai” (yang iya, gue ngerasa sebenernya gue nggak pantes dapet nilai segitu untuk beberapa mata kuliah.. yang baru kerasa susahnya pas udah di Belanda), jadinya mahasiswa juga “murah nilai”, begitu juga program studi.

Banyak dosen di Teknik Kimia ITB yang keren, yang kalo gue bilang “guru yang sesungguhnya”, yang mana ketika beliau ngajar, gue langsung bisa njentik jari sambil bilang “ooo, ini tuh maksudnya gini.. cara ngitungnya gini”. Yah, nggak semuanya sempurna sih, banyak juga yang susah dimengerti pola penyajian materinya, atau punya ketersinambungan alur pengajaran dengan jeda yang kurang teratur (#kode) jadi susah nyambungin sama kuliah minggu sebelumnya. Gue nggak bilang kalo kita harus menerapkan sistem “evaluasi mahasiswa yang berpengaruh besar” layaknya di Belanda, tapi mengikuti jiwa “memberikan pelayanan pengajaran yang terbaik” yang dimiliki dosen-dosen di TU Delft nggak bakal bikin sakit juga sih.

Gue jadi pengen nyangkutin sama pendapat yang berseliweran di FB: “dosen di Indonesia terlalu murah nilai”

Kesimpulan 2: Jadi dosen yang mau meningkatkan diri dari hasil evaluasi itu nggak sakit kok

Di dunia ini nggak ada yang sempurna. Makanya, semua orang wajib “belajar” atau setidaknya “membuat dirinya lebih baik dari sebelumnya”. Salah satu hal yang bisa memfasilitasi perbaikan itu adalah evaluasi dari lingkungan terdekat. Agak menyimpang dari topik besar, tapi sepengetahuan gue, universitas dengan ranking yang tinggi-tinggi umumnya punya tenaga pengajar yang bermotivasi tinggi, siap memperbaiki diri, dan berusaha keras buat selalu lebih baik dari sebelumnya. Mungkin itu bisa jadi satu resep biar bisa balikin univnya masuk QS big 100 lagi #kode.

 

Segini dulu deh. Udah kepanjangan. Gue juga nggak yakin ada yang mau capek-capek baca beginian. Hahahaha. Yang udah berkenan membaca sampai kalimat ini, makasih banyak. Saran dan kritik (atau protes) siap gue terima. Semoga ada manfaatnya. Gue percaya bahwa setiap hal punya kekurangan dan kelebihan yang terbentuk dari karakter dasar masing-masing hal tersebut. Yang membedakan kenapa hal satu dinilai lebih baik daripada hal lainnya adalah keinginan dari hal itu sendiri untuk memaksimalkan potensinya dan meminimalisasi kekurangannya. Jangan pernah berhenti untuk menjadi lebih baik.

 

Salam, catalystro

panduan memilih gadget ala catalystro

image

kayaknya bakal panjang ini post.. jadi silakan disekip kalo males.. hehe
enggak tau kenapa iseng pengen nulis ini.. soalnya beberapa saat yang lalu sempet dijadiin tukang menyarankan gadget buat beberapa orang.. jadi entah mungkin kalo ditulis di sini jadi bisa dibaca orang lain kali ya? mungkin berguna, mungkin juga sampah

rule dalam post ini :
1. mostly opini di sini adalah pendapat gw.. jadi silakan didebat, disanggah, dicaci, dibenarkan, atau malah disebarkan.. kalo benar datangnya dari Allah.. kalo salah ya dari kebegoan gw sendiri.. hehe
2. data-data spesifikasi dan sumber memori gw dalam berpendapat kebanyakan adalah hasil baca PhoneArena dan Engadget jadi kalau mau dikroscek atau mau dapet pengalaman eksploring yang lebih asoy silakan melihat ke sana
3. saya end-user, bukan tukang promo, cuma tukang ngomong yang sering ga benernya.. jadi saya bakal senetral mungkin mencoba memberi saran-saran yang mungkin bermanfaat
4. post ini dapat dishare, dibanned, direblog, disanggah, atau semacamnya melalui manapun (komen langsung, komen di link sosial media beserta tautan), tapi mohon kalo reblog ato repost kasih kredit ya :3 trus kalo mengkritik silakan menyerang saya dengan sebebas mungkin, tapi mohon pake kata-kata yang nggak vulgar, kasian kalo orang lain jadi ga enak baca..
sipsip mari dimari mulai

OS
gw mulai dengan perbandingan OS-OS yang populer sekarang, gw bakal batasi 4 mobile-OS yang lagi naik daun (menguasai hampir 100% market share).. bakal gw kasih pendapat gw tentang merit dan demerit nya OS-OS tersebut
iOS : Siri, stabilitas dan keindahan
produk keluaran Apple yang sekarang lengser dari tahta market share, ditemui di semua iDevice : iPhone, iTouch, iPad
keunggulan OS ini adalah STABILITAS nya.. beneran deh, jarang banget iOS crash.. seenggaknya sebelum iOS 6 sih.. tapi iOS 6 pun bagus walopun ada laporan iOS 6.1 ada lubang keamanan di lock-screen nya, tapi tetep aja karena biasanya device nya didukung powerhouse yang keren, jalannya mulus.. iOS juga indah.. tampilannya cukup bersih walopun nggak bisa dimodif sesuai keinginan
dan.. iOS punya tante-tante cukup cerdas bernama Siri.. tinggal tanya ato perintah, Siri langsung merespon dan menjalankan perintah.. sayangnya, dukungan bahasa Indonesianya nggak terdukung.. dan pronounciation cukup ribet untuk menyesuaikan kemampuannya Siri..
iOS terbaru (sampai saat artikel ini ditulis) adalah iOS 6.1.1

Android : widgets, kebebasan, dan Google
ini OS emang lagi naik daun.. nggak cuma di Amrik ato Eropa, tapi sepertinya Indonesia juga udah terkena demamnya, ditambah lagi merk ponsel “lokal” yang menyediakan ponsel Android murah pun menjamur, alhasil Android pun sukses di Indonesia (secara salah satu preferensi wajib dalam memilih ponsel buat warga kita adalah harga)
seperti judulnya, Android terkenal dengan “widgets”nya, alias interface yang bisa ditempel di homescreen dan menyediakan banyak informasi, bahkan kadang interaktif
Android sifatnya open source, jadi legal untuk mengoprek-oprek android mulai cuma ngeisengin launchernya sampai bikin modif di ROM-nya, alhasil, tampilan Android bisa diatur sesuka-suka kita (bahkan mau dimiripin iOS atau Windows Phone juga bisa)
dan.. karena ini OS didukung Google, (bukan dimiliki ya.. Android itu open source.. Google cuma pemberi dana dan penyumbang penelitian tergede) otomatis semua layanan Google (termasuk Maps dan Search-nya) bakal terintegrasi penuh ke devicenya
Android teranyar sampai detik ini adalah 4.2.2 Jelly Bean

Windows Phone : Live Tile dan integrasi Windows
OS keluaran Microsoft yang unik dengan Live Tiles-nya ini sebenernya bukan OS baru.. orang yang pernah make Samsung Omnia atau O2 Palm pasti pernah ngicipin WP 5 ato 6.. cuma sejak kemunculan WP 7 dan 7.5 (Mango) kemudian 8 dan 7.8 plus dukungan Nokia dengan Lumia-nya, barulah OS ini muncul ke permukaan lagi
keunggulan utama dari OS ini adalah integrasinya dengan produk Microsoft lainnya, terutama produk andalannya : Microsoft Office (bahkan produk ini bisa jadi materi kurikulum pelajaran IT di sekolah atau bahkan universitas .__.)
buat para pekerja, terutama yang perusahaannya punya kerja sama dengan Microsoft, tentunya device dengan WP sangat amat menolong, terutama pas lagi di perjalanan, tiba-tiba ada kerjaan yang berhubungan sama penggunaan MS Office dan harus segera dirampungkan.. kalo punya WP device, tinggal masuk ke SkyDrive, edit di hape ato surface, cling.. kelar bisa sambil jalan
WP terbaru sampai saat ini adalah WP 8

BlackBerry OS : BBM, social networking, dan encrypted mail
OS ini adalah OS terbanyak dipake di Indonesia (setidaknya sampai tahun lalu).. dan device BB pun dimiliki bhuanyak banget manusia Indonesia (dari pejabat ampe mbak di rumah).. populer di Indonesia gara-gara BBM-nya.. yang sangat menarik perhatian soalnya bisa “ngobrol” nggak mikir pulsa tinggal berapa .__. (Indonesia.. yah begitulah)
OS ini udah mulai tenggelam sejak keluarnya iPhone.. bahkan mulai terpuruk.. tapi sejak CEO RIM (sekarang jadi BlackBerry) diganti dan keluarnya BB OS 10 yang keren, mulailah OS ini punya harapan lagi..
keunggulan OS ini tetep, BBM.. dan di OS 10, bahkan ada Voice dan Video Call!!!! bayangin, Voice Call gratis via BBM?? apa nggak tambah bikin manusia Indonesia ngiler : nelpon sepuasnya, bahkan cam cam an tanpa pikir pulsa??
dan dukungannya buat para pekerja (yang harusnya dulu jadi fokus utama BB, bukan BBM-nya loh) berupa push email yang terenkripsi.. layanan email BB emang ajib.. aman terjamin.. dan sepengetahuan saya, browser punya BB ini nggak sembarangan loh.. dari tes uji, browser ini lebih baik daripada 93% device di dunia, mengalahkan browsernya Galaxy Note 2, dan Safari nya iOS
BB OS terbaru BB OS 10

lifestyle dan kebutuhan
lah.. gadget kok malah lifestyle? kenapa? apa hubungannya?
kalo menurut saya itu berhubungan banget sama preferensi seseorang memilih barang, termasuk gadget.. jadi di sini saya bakal mengkover beberapa lifestyle yang saya kaitkan sebisanya dengan kebutuhan dan preferensi pemilihan gadget
1. maniak
yak.. ini kemungkinan lifestyle yang paling mutlak bersinggungan sama pemilihan gadget..
pernah denger istilah “Apple FanBoy”? yang beliaunya sangat amat mencintai produk keluaran Apple Inc. dan hidup matinya untuk Apple.. mereka nggak akan bisa dipindah tangankan dengan iming-iming apapun untuk membeli produk yang bukan keluaran Apple.. biasanya mereka banyak duit (secara produk Apple mahal teuing) dan pasti punya nggak cuma satu gadget.. hehe
ada juga yang pengguna setia BlackBerry.. yang udah kadung terpikat dalam jurang BBM yang dalam.. atau suka banget sama layanan push e-mail nya yang aduhai dan secure.. mereka bakal cenderung milih BB di atas segalanya
ada lagi penggandrung Android.. nah kalo yang ini ada beberapa level sih.. ada yang cuma user, cuma pengen enak makenya, kadang ada juga yang pengen hidup “canggih”.. tapi ada juga yang suka oprek-oprek kecil, nge-flash ROM baru sana-sini.. nyobain mulai dari Nightly sampe Stable-mod, ada juga yang ahli banget sampe bisa ngoprek bikin apk ato bahkan ROM sendiri
dan ada lagi, Microsoft mania.. yang hidupnya penuh dengan jendela (Windows), maka nggak diragukan lagi preferensinya yang berkaitan dengan Windows
yang terakhir, spesifik sama brand gadget tertentu, misalnya sukanya Samsung doank, LG doank, ato lain-lain
nah, untuk para maniak, nggak perlu gw kasih saran lebih lanjut, soalnya nggak bakal bisa diutak-atik lagi dan biasanya mereka update.. jadi mubazir.. hehe
2. mobile office worker
biasanya, orang-orang ini sibuk super, dan harus pergi entah kemana-mana dalam kesehariannya.. dan nggak jarang, dia bawa segala kerjaannya dalam perjalanan itu.. kadang harus bekerja juga di sepanjang perjalanan.. menurut saya, pengguna macam ini biasanya butuh banget aplikasi mail, dan office.. berikut saran gadget HP yang gw beri :
a. BlackBerry Z10
wow.. kenapa tiba2 BB? menurut hemat gw, BB emang diciptakan buat office worker, dengan layanan push emailnya yang keren dan blackberry hub yang dengan ajibnya mengintegrasikan semua akun, mulai akun mail office sampai twitter pribadi dalam satu tempat.. office worker yang nerima banyak email dan punya rekanan yang pake BBM, plus suka ngasih kultwit keren, ya ini OS paling nyaman buat dipake

b. Nokia Lumia 920 or Samsung Ativ S
yea.. kali ini WP 8 family.. again, ini karena integrasinya dengan produk Microsoft, especially, Microsoft Office-nya
nggak usah bertele-tele, ini ada video tentang Ativ Family yang menggambarkan keenakan dari pemakaiannya di Office work

c. Samsung Galaxy Note 2
Android bukan OS yang spesial buat bikin kerjaan, tapi Note 2 dengan Multi Window feature-nya bikin enak buat mengerjakan dua hal dalam satu waktu.. silakan liat video aja :3

nah.. buat tablet, berikut saran gw :
a. Microsof Surface Pro, Samsung Ativ Tab, Asus Vivo-Tab
udah jelas.. ini tablet keluaran Microsoft, dengan Windows 8 dan Microsoft Office-nya udah pasti jadi office device paling familiar.. dan yang ini, bisa dibawa ke mana-mana.. gw kasih video yang Surface produk Microsoft aja ya 😉

b. Samsung Galaxy Note 10.1
device ini gw pake sendiri.. dan suer.. enak buat multitasking (dan ini artikel sebagian ditulis pake device itu juga)

3. social butterfly
buat para pecinta social networking, banyak banget sebenernya pilihan handset yang bisa dipake, cuma beberapa yang gw saranin itu :
a. Blackberry Q10 dan Z10
walah.. saya bukan pengguna dan pendukung BB, tapi serius, buat social butterfly, terutama yang udah biasa pake BB, dua device ini sangat membantu.. terutama Q10 yang punya keyboard QWERTY.. BlackBerry Hub beneran memudahkan untuk bales twit, liat notif FB, ato chatting biasa di BBM

b. Samsung Galaxy Note 2
ini device membuat social sharing lebih hidup dengan sentuhan tangan yang natural (berkat S-Pen).. kameranya yang oke bikin pecinta share foto dengan tempat (instagram ato Path misalnya) bakal bisa ngeshare fotonya dengan lebih kreatif.. dan bisa jadi alat buat berkreasi juga loh..


c. iPhone 5
yak.. device ini punya kamera yang mumpuni dan enak buat dibawa-bawa.. plus Apps nya yang bejibun dan keren-keren, sharing bakal jadi hal yang gampang dan enak dengan device ini.. layanan iCloud-nya juga memungkinkan share dengan sesama iPhone user tanpa perlu ngeshare ke social media lain

d. Samsung Galaxy S3
kamera device ini bagus.. sama kayak Note 2.. bisa buat share-share foto, dan punya best photo, all share, dan auto tagging feature.. jadi enak buat share sama temen-temen 🙂




4. photographer and adventurer
ada orang yang suka foto-foto dengan device-nya.. sebenernya ini agak bersinggungan sama si social butterfly kalo si tukang foto ini suka ngeshare langsung.. tapi ada juga yang emang make device-nya sebagai pengganti kamera.. kadang juga ada adventurer yang suka jalan ke tempat-tempat aneh.. dan bakal susah kalo bawa kamera segede gaban.. di saat itulah butuh hape dengan kamera oke.. tapi juga tahan banting.. nah berikut saran-saran gw buat penggemar fotografi dengan hape :
a. Samsung Galaxy Camera
eum.. sebenernya ini agak curang.. soalnya ini bukan beneran hape.. tapi kamera dengan OS.. anyway ini kamera bener-bener kamera banget.. cuma dilengkapi Android yang memungkinkan untuk mengapangapain itu foto.. fungsionalitasnya sebagai kamera (dengan lensa yang keren dan daya ambil gambar yang luar biasa) nggak usah diragukan lagi.. silakan dilihat

b. Nokia 808 PureView
hape dengan kamera 41 MegaPixel??? lensa Carl Zeiss lagi??!! Nokia 808 PureView jawabannya.. bisa dilihat sendiri hasil rekaman videonya.. mantap punya deh 😉

c. Sony Xperia Z
kamera 13 MP dengan teknologi Bravia Engine dan Exmor RS.. gambarnya keren banget.. ini sangat cocok buat adventurer juga.. kenapa? hape ini diklaim tahan air dan tahan debu.. juga cukup tahan banting.. jadi silakan dicoba deh buat para penggemar jalan-jalan ekstrim


d. Nexus 4 atau LG Optimus G
punya 13 MP kamera juga.. sebenernya dua device ini adalah device yang sama, cuma Nexus 4 full Google flavored, kalo Optimus G LG punya.. satu keunggulan Nexus 4, karena dia punya Android 4.2 dengan PhotoSphere-nya, maka dia bisa ambil gambar nyaris 360 degree keren banget macem di video ini

5. gamer
ada juga kan yang suka main game di hape (ato tablet)? spec buat gaming itu kuncinya dua : powerhouse (processor dan RAM), dan application store.. kalo powerhouse nya gede, tapi game nya nggak ada yang bagus di storenya, sama aja boong kan? jadi yang gw saranin adalaaahh :
a. iPhone 5
nggak diragukan lagi, dengan prosesor A6 nya yang mantep, game 3D yang kayaknya berat pun bisa disokong.. ditambah lagi, Apple Apps Store punya banyak game keren macem Asphalt, Heroes of Order and Chaos, FIFA 2013, Infinite Blade, sampe Final Fantasy pun ada.. layarnya yang pake retina display bikin gambarnya stunning, juga panjang tapi nggak kegedean pun mendukung buat dipegang dengan nyaman

b. Archos GamePad
ini tablet emang udah dirancang buat main game.. liat aja bodinya yang udah dilengkapi joystick.. powerhouse nya juga lumayan sih.. dan keuntungan dari Android platform adalah kebisaannya main game PSX bajakan pake FPSe atau apk gratis lainnya dan ngunduh iso game nya di mana aja.. keuntungan tablet ini : murah 😛


c. Sony Xperia Tablet S
nah.. yang suka barang aseli dari toko, bukan bajakan, tablet ini pilihannya.. karena bikinan Sony, jelas dia punya store khusus berupa Certified PlayStation store punyaan Sony.. bisa beli game-game di situ dan bisa dimainin pake stick PS3 yang emang pake wireless connection.. jadi deh PS yang portable tapi bukan PSP.. hehehe

d. Sony Xperia Play
ini versi hapenya dari Sony.. udah ada gamepad nya juga.. emang dirancang untuk main game PlayStation dari Sony sih
sayangnya, ini udah lama

6. mahasiswa
yak.. mungkin ini yang agak ribet dibahasnya.. soalnya kebutuhan mahasiswa itu macem-macem.. tapi yang jelas, karena kita-kita nggak punya doku banyak-banyak, mesti pinter-pinter milih biar tetep keren walaupun nggak terlalu mahal.. kalo soal hape, saran gw adalah yang harganya di bawah 3 jutaan.. yaitu :
a. Nexus 4
flagship Nexus teranyar sekaligus murah (harusnya sekitar 3 jutaan).. ya.. nggak murah2 banget sih.. tapi dengan spec gitu (SnapDragon S4 Pro, kamera 8 MP), plus dukungan Nexus, itu murah setengah mampus.. sayangnya, no mem card available.. jadi harus milih antara 8 ato 16 GB storage.. dan kayaknya agak susah nemuin ini di Indonesia deh.. entahlah

b. LG Optimus L7
hape ini lumayan bagus.. plus harganya cuma sekitar 2,5 juta.. pas di kantong dan spec nya SnapDragon 1-GHz, 5 MP cam, sayang RAM nya 512

c. Sony Xperia U
berbekal sama dengan L7 (1-GHz, 512 RAM, 5 MP cam) plus Bravia Engine dan TimeScape UI punyaan Sony, hape ini oke buat dipake dan cuma butuh 2 juta buat dapetin hape ini

d. HTC One V
2,5 jutaan juga.. dan spec sama.. cuma dilengkapi Sense UI nya HTC.. jadi bisa jadi pilihan juga.. HTC bilang, kameranya oke

e. Samsung Galaxy Ace II
sedihnya, CPU masih di 800 GHz, tapi RAM 768 MB, cam 5 MP.. harga 2,5 jutaan juga, tapi saya nggak terlalu reccomended soalnya kurang yakin dengan dukungan ke JB yang resmi.. paling harus dari Custom ROM

buat tablet, saran saya sih :
a. Nexus 7
murah, dukungan nexus.. pas di tangan (bisa satu tangan), enak buat baca pdf di jalan.. jeroannya cukup bagus, sayangnya nggak punya kamera belakang.. tapi yah.. buat apa kamera belakang di tablet .__.

b. iPad mini
nggak murah sih.. tapi ya itu.. iOS yang stabil.. dan bisa dipegang di satu tangan.. ini juga enak banget buat baca-baca pdf ato bahkan main game.. punya kamera belakang.. sedihnya.. mahal..

yak kira-kira itu aja sih yang gw bahas.. maaf nggak terlalu informatif.. tapi spec seluruhnya bisa dilihat di situs-situs yang gw kasih di baris-baris pertama, tempat gw ambil data.. kalo mau lihat harga di Indonesia, bisa dilihat di Tabloid Pulsa
di situs-situs tersebut tersedia fitur komparasi, jadi semua spesifikasi dan harga bisa dibandingin di situ
yak.. semoga bisa bermanfaat dan selamat memilih device 😉

manga.. why they are so famous?

this is my first time to have a mind share in English.. I hope it won’t hurt anybody ^^
maybe it’s also not a long post.. I just wanna say simple thing

maybe those who always read English version (sorry >.<) don't know that I always start a post with the introduction of the topic.. keke
it's just because I watched two animes today.. one is recommended by my Indonesian friend : "Kamisama Hajimemashita" which means "god, it's started".. err.. maybe.. kekeke.. my Japanese is not good enough.. sorry 😛 and other one is recommended by my lab member : "Sakurasou no Pet na Kanojo" which in my understanding means "Sakurasou's Girl Pet".. (Sakurasou is a name of place in this anime)

the second one is.. euuummm.. rather ecchi :3 but the core of the story is good in my opinion : it's about realizing ourselves.. where should we belong to.. ^^ the story is about a boy who lives in a Loony Bin of his school which has many weird residents.. but they are particularly genius in their own.. one is mangaka (one who draws manga), one is scriptwriter, and one is someone who could make anime.. but the main character doesn't have anything (in his mind) special about him.. *I just started to watch it, and until now, I realized that he is a very kind boy*

one thing comes to mind when I watch that anime is : manga (and also anime) is always so detail.. they detailed all of their characters with their own unique personality.. and each personality is too strong that you will always get them popped out in your mind when you see related character

for instance, in this anime (sorry, it's a little bit spoiler)
Sorata Kanda : the main character of this anime. He’s 2nd year of regular division in one Art High School. He came to Tokyo from Fukuoka and live in the dormitory. But he was thrown to the Loony Bin because he wanted to take care an abandoned cat. He thought that he doesn’t have anything special and the life is just straight for him, until he met Shiina Mashiro.
Shiina Mashiro : protagonist female character. She came from England and she is a relative to one of the teacher who also live in that Loony Bin. She’s very “white”. Seems like has no normal consciousness, just know about drawing manga. Even she doesn’t hesitate to naked or eat a cake in convenient store without paying. But behind that, she is a genius that had made name in painting world. Even she had her own world art exhibition.
Nanami Aoyama : classmate of Sorata. Seems to like Sorata but has no brave to tell. She came from not wealthy family. She always does part time job (arubaito) for her living. She is a hard worker.
Misaki Kamiigusa : 3rd year in Art Division in the school. She is genius in making anime. She always love Jin, but her love never been accepted. Always try to make Jin hers but fail. Even she doesn’t hesitate to do pervert things.
Jin Mitaka : a handsome guy who also playboy. He can make women fall into him then do pervert things. But he always reject if Misaki is the one who does the pervert thing. In my mind, he actually loves Misaki

see? in the brief description about them (from my point of view), the personality of each character is clear and unique
that makes me think :

manga (and anime) is good not only because of it’s beautiful drawing, but also a strong impression of each of the character

this anime is just a sample of many famous anime (and manga).. if you know Naruto, you also know that each of the character has very unique personality and way of thinking
maybe it’s also the cause of why do the Indonesian cartoon or novels are not too famous.. they are little bit lack of detailed and unique personality of the characters

the conclusion of this post is :

if you make anything.. anything.. make sure that you don’t left the detail behind.. little thing.. little detail.. could make huge different..

that’s all for today.. kekeke
sorry no long post ^^

MERDEKA!

pemikiran orang bodoh mengenai “pemikiran”

ahak.. Indonesian again >.<

directly dah :
ini sebenernya udah pengen lama aku tulis.. kadang dibicarain sama temen-temen gila juga.. nah akhirnya kesampaian ditulis
sebelum memulai lagi, di sini saya mengingatkan bahwa tulisan ini cuma sekedar pemikiran bodoh seseorang.. bebas dikomentari, didebat, dikriktik, dihujat, ato dipikirin lebih jauh.. hehe.. buat yang mau baca, makasih banget.. buat yang kasih feedback, makasih pake banget nget nget

kali ini tentang apa? sebenernya mau membahas kesadaran sih.. tapi karena alasan biar judulnya agak keren dikit, makanya di judul dikasih tagline pemikiran.. hayuukk.. hajimemashooohhhh

dari kecil.. gw punya satu pertanyaan yang sangat bikin gw berpikir.. bahkan hingga hari ini :

apa iya, orang lain itu merasa melihat dan menerjemahkan dunia seperti kita melihat dan menerjemahkan dunia?

maksudnya? gini sih.. kan gw menerjemahkan dunia ini dari mata gw, pemikiran gw, perabaan gw, pendengaran gw, de el el yang gw rasain sekarang.. nah itu bikin gw penasaran, apakah Anda juga merasakan perasaan yang sama seperti saya merasa menjadi diri saya?
kalo yang saya pelajari sekelumit dari ilmu agama saya, memang manusia itu ada raga dan qalbu-nya.. di mana raga itu material rantai puanjang belibet C,H,O,N,S,P de el el yang udah dibentuk sedemikian indahnya dalam keteraturan sedemikian mantepnya oleh Allah.. sedangkan qalbu itu.. hem.. mungkin akan lebih bisa dipahami kalo diterjemahkan sebagai “kesadaran”
nah.. saya pengen ngebahas hal kedua, dan implikasinya ke dalam hidup, termasuk kenapa saya nulis beginih

kesadaran itu apa? susah banget dijelaskan secara oke.. intinya, dirimu menjadi dirimu karena kamu punya kesadaran itu.. dan kamu tidak akan menjadi dirimu ketika kesadaran itu hilang (bahasa gampangnya meninggal dunia)
bukan cuma itu, kesadaran itu juga yang membentuk kepribadian unik sebuah bentukan manusia (walaupun raga juga bikin unik sendiri) tapi seenggaknya kesadaran itulah yang secara kasat mata gampang dilihat sebagai pembeda antara dua saudara kembar (kalo mau tes de en a ato liat sidik jari kan ribet yak?) kesadaran itu inti dirimu, yang akan kekal sampai alam baka.. yang membawa pahala dan dosamu.. yang membuat dirimu menjadi sebuah entitas yang eksis

saya nggak berani membahas perdebatan diri saya sendiri mengenai pemahaman lebih lanjut mengenai kesadaran.. tapi saya bakal lebih fokus ke apa implikasi punya kesadaran
cling
seperti gw bilang sebelumnya, kesadaran tu yang bikin diri kita unik.. dan implikasinya adalah : kita punya sesuatu yang bernama kebebasan.. karena ya kita unik.. kesadaran kita membikin kita bisa memiliki keinginan.. karena keinginan manusia itu nggak mungkin disamaratakan, maka lahirlah kebebasan, yang menurut batasan gw adalah kapabilitas sebuah individu untuk mengekspresikan keinginan yang didasari oleh kesadarannya (ego)
nah nah.. kerennya dari kepemilikan kesadaran adalah, karena kesadaran itu pula juga, kita jadi punya pembatasan terhadap kebebasan.. loh? menurut gw, pembuatan peraturan (dalam hal ini gw definisikan sebagai pembatas kebebasan) sebenernya juga didasari dari kebebasan (otomatis kepemilikan kesadaran) itu juga.. kenapa? karena untuk menjamin kebebasan masing-masing individu yang mutlak, kebebasan orang lain harus dibendung dan dikendalikan..
hadeh.. ribet yak? intinya, kebebasan mutlak (cara saya mengungkapkan istilah Hak Asasi Manusia alias HAM, bukan hamburger yak) itu harus dilindungi dari kebebasan tidak mutlak (yang masih bisa ditoleransi dan tidak akan menghilangkan kebebasan mutlak pemiliknya bila tidak dilakukan).. makanya peraturan itu ada

nah kenapa saya ngomong belibet gini? gw abis baca postingan kerennya kak bochol (thanks ya kak.. terus nulis!!) ini Melawan Kesantunan
gw jadi berpikiran, kenapa sih manusia banyak yang cari aman dengan mengambil “jawaban aman” ato “jalan tengah” dari suatu masalah (seperti dalam ulasan kak Bochol itu)
pemikiran gw adalah seperti ini :
manusia itu kesadarannya punya keinginan (yang akan disebut dalam kalimat sebelumnya sebagai ego)
ego ini menginginkan tingkat energi yang rendah sehingga dirinya tidak merasa terancam dan dapat melakukan apa yang diinginkan (selanjutnya dirujuk menjadi comfort zone)
ego akan selalu berusaha menjaga comfort zone nya karena dia tidak ingin membuang energinya terlalu banyak.. padahal kalo disadarin ya, mempertahankan comfort zone itu energinya kadang bisa lebih banyak loh daripada nyebrang ke negeri antah berantah di luarnya
orang akan cenderung menghindari dirinya dihujat, dicemooh, atau dihina.. itu kayaknya perasaan yang membikin dirinya rendah.. dan pada dasarnya (biasanya) manusia enggak mau direndahin.. atau disalahin..
makanya mereka memutuskan untuk bertahan di garis abu-abu.. setidaknya itu yang mereka pikir bakal menjaga comfort zone mereka tidak terancam

ini menurut saya loh ya
padahal sih sebenernya, ya bener katanya Mbah Sudjiwo Tedjo yang dikutip di tulisannya Kak Bochol itu.. mestinya orang itu harus berani berbicara dari hati.. biar kalo salah harus nerima dikritik.. kalo bener ya alhamdulillah.. datang dari Allah..

nah.. ini balik ke kesadaran dan kebebasan itu.. dan juga peraturan yang membatasi
ada baiknya, kita harus bisa berpikir bebas, berekspresi bebas, berbicara bebas..
tapi ada baiknya juga, kita harus menjamin kebebasan orang lain tidak menjadi tidak bebas lagi gara-gara memaksakan kebebasan kita
nahlo
*nb maaf ya ini postingan ngalor ngidul, muter-muter, dan krik..
gampangnya, saya pengen menquote nih

berpikirlah dengan kebebasan dalam kesadaranmu.. tapi ungkapkanlah dengan menjaga kebebasan orang lain..

dalam pemikiran saya, quote tadi berarti : saya bisa berekspresi apapun, tapi harus siap buat ditanggepin ato bahkan dihujat.. seperti kata saya tadi
jadi, ini saya bilang gini udah siap mau dibilang ato dipikirin apa sama orang.. kekeke..
tapi hendaknya oh hendaknya.. kita semua tahu cara penyampaian yang baik tentang kebebasan pemikiran kita..
bila kita sadar kebebasan orang lain itu mengganggu kebebasan kita, kayaknya (kayaknya loh ya.. CMIIW), cara yang paling asyik bin mak syuur buat bikin itu jadi ayem adalah ngomong langsung ke orangnya.. hal ini berlaku ketika kita emang bisa me-reach orangnya loh ya.. beda kalo mau protes sama presiden.. keke

kebebasan oranglah buat memikirkan bahwa sesuatu’ itu benar atau salah dalam pemikirannya
juga sesuatu’ itu sesuai dengan dirinya ato nggak
juga sesuatu’ itu harus dikejar ato ditinggalin
juga sesuatu’ itu harus dicintai ato dibenci
karena kita punya kesadaran yang membikin kita unik

satu quote lagi yang (semogaaaa aja) original bikinan gw pas SMA doeloe.. (maaf kalo ternyata udah ada yang ngequote duluan, tapi ini aku dapet dari penurunan rumus kayak obrolannya Mbah Tedjo di TEDx itu)

perasaan itu nggak pernah salah.. yang salah itu cara mengungkapkannya

yang artinya : ya itu tadi deh.. maaf muter lagi.. kita bebas mau sayang, benci, senang, sedih, marah, setuju, mau menghujat, ato apapun perasaan yang keluar dari ego kita terhadap sesuatu..
tapi hendaknya, ketika kita akan mengeluarkan perasaan ego itu, pakailah cara-cara yang nggak mengganggu kebebasan orang lain
jadi, sebaiknya jangan maksain juga kalo sayang sama orang tiba-tiba ngejar orang itu dari kampus ampe asramanya, terus nodong pisau belati yang dikasih sticker lope-lope dan teriak galak “GUE SAYANG ELOHH!!”.. yakali .__.
juga, sebaiknya dengarkanlah penjelasan seseorang mengenai keegoannya dia sebelum ngamuk-ngamuk dengan nada tinggi dan memaksakan bahwa pemikirannya adalah dewa di antara pemikiran lain

yuhu.. again, this is just a stupid thinking about thinking itself
no offense.. karena sekali lagi, ini ungkapan kebebasan saya, dan saya siap diterpa oleh kebebasan Anda untuk berekspresi juga.. sebenernya bukan siap sih.. tapi seneng.. suer dah seneng kalo tulisan gaje gini ditanggepin
semoga bermanfaat
dan bila ini benar adanya, maka kebeneran itu milik Allah yang kebetulan mampir lewat pikiran orang bego yang nulis ini.. dan kalo salah.. ya namanya juga orang bego.. hehehe

penutup
Indonesia itu indah
maka Indonesia itu sebenernya bisa bebas
karena SEKALI MERDEKA TETAP MERDEKA!!

oleh-oleh dari jalan-jalan ke pabrik Nissan (Indonesian ver.) – opini gue

this is Indonesian version.. hehe

gw males ngulangin postingan gw.. apalagi nerjemahin 😛 so, please donk ah kalo mau baca postingan berikut ini silakan baca dulu postingan bahasa Inggris (yang banyak salah dan ngaconya mungkin.. maaf kalo jadi keriting gara2 kata-kata saya nggak bener) tentang kunjungan ke Nissan hari ini di link ini

ga bosen-bosen diriku menyatakan bahwa ketika make bahasa Ibu, ya gw curcol :3
kali ini mungkin curcolnya agak berbobot (soalnya abis makan nih gw.. jadi nambah beratnya gitu.. wkwk)
*muka serius*
ini mengenai pendapat saya tentang masa depan si fuel cell
*cetar-cetar* *petir menyambar*

ah.. ga asik kalo pake bahasa terlalu formal.. jadi maap yak.. racauan saya kacau kayak biasa 😛

yang jadi kepikiran sama saya tentang ini fuel cell adalah.. kenapa orang mau ngembangin fuel cell ya?
emang sih, zero emission.. tapi.. kayaknya nggak terlalu mengatasi masalah “kekurangan energi”
*nb, postingan ini penuh CMIIW.. silakan dihujat ato dikomentari.. karena ini ngeposting nggak komprehensif jadi datanya nggak valid
btt
kenapa nggak terlalu mengatasi?
saya ngambil especially yang PEMFC ya.. soalnya hari ini ketemunya itu
nah.. si PEMFC ini kan make bahan bakar yang muahal dan susahnya minta mampus buat dibuat : hidrogen
yah.. saya masih katrok sih soal teknologi pemroduksi hidrogen yang lebih maju sekarang.. maaf kalo nggak tau yak.. cuiiingg
habisnya.. yang saya tau mbikin hidrogen itu cuma dari dua hal : ngeelektrolisis air, ato mecah hidrokarbon (termasuk di dalamnya biomassa)
cling-cling.. pikiran gw adalah :
1. kalo make elektrolisis.. listriknya berapa cuy? jelas-jelas reaksi air jadi hidrogen dan oksigen itu energi bebas Gibbs’ nya negatif (dalam temperatur dan tekanan ruang loh ya).. yang otomatis (ya jelas lah.. namanya juga elektrolisis) butuh energi (dalam kasus ini listrik.. sekali lagi namanya juga elektrolisis) yang nggak sedikit (bisa dibilang bhuanyak banget)… so so so soooo.. rugi donk make listrik segitu besar buat ngebikin hidrogen trus hidrogennya ntar dibikin listrik lagi.. dan pasti tau lah.. banyakan PLT sekarang PLTU ato PLTD yang bahan bakarnya dari apa? yupp.. batu bara ato fossil fuel (diesel maksudnya.. eh.. solar ding kalo di Indonesia)
dan lagi, efisiensi dari PEMFC (secara finansial nih yak biar gampang dibayangin).. nggak tinggi.. yaitu sekitar US$49 (sekitar 500 rebu rupiah) per kilowatt (buat perbandingan, TDL Indonesia yang nggak subsidi adalah sekitar 1.400 rupiah)
2. kalo mau make hidrokarbon.. errrr… masalahnya ya jelas sekarang kan bahan utama buat bahan bakar ya itu hidrokarbonnya bahan bakar fossil kan? jadi ya.. sama aja boong.. nggak ngeganti.. malah jadi rugi.. kenapa? ya karena nggak semua hidrokarbon ngecling-cling jadi hidrogen gitu aja kan? rugi lah.. kalo make biomassa.. ada sih masa depannya.. tapi kalo dihadapin sama masalah lahan dan pertumbuhan penduduk.. bisa jadi perdebatan lagi sih

nah jeleknya.. di sini saya cuma nguneg-nguneg.. jujur.. belum ketemu tuh solusi yang bisa bagus
masalahnya.. kalo menilik teknologi yang sebenernya (menurut saya) paling oke (udah nggak make si hidrokarbon ato biomassa, apalagi listrik), yaitu solar cell.. kayaknya masa depannya masih suram.. trus kalo make nuklir.. sekarang bahkan negeri sakura ini udah takut mau make nuklir lagi.. dan juga.. ada peraturan bahwa salah satu hal yang nggak boleh diskala kecilkan adalah nuclear power plant (yang jelas-jelas dibutuhin kalo mau bikin vehicle dengan teknologi itu.. gaje juga kan kita mau bepergian bawa-bawa pabrik nuklir segede gaban gitu?).. habis.. pada takut ada bom atom (bom nuklir) lagi sih
hem hem.. emang susah sih bikin sumber energi yang ramping dan portabel sehingga gampang dibawa dan didistribusikan.. juga yang paling penting didapet sih.. selain bahan bakar minyak kayak yang sekarang kita nikmatin
apa yaa?? ada yang punya ide?

yak.. postingan ini berujung dengan gaje.. dan kegalauan saya tentang masa depan energi..
sebenernya ada uneg-uneg lain tentang kalo ntar FCV jadi bener mendunia sih.. ampe masuk negeri kita.. apaan? ya kalo si Jepang bilang bisa bikin 5000 gas station (hydrogen gas station) di 2050.. Indonesia.. kapan? hemm.. nggak pengen meragukan negeri sendiri sih.. makanya nggak diperpanjang

yah.. maaf kalo postingannya mengecewakan.. tapi ini bisa jadi pemikiran bersama deh
apa ya kira-kira sumber energi yang asik.. tapi bisa dibawa-bawa (kayak bawa kacang atom.. apa deh ini .__.)

dan jujur.. saya ngantuk (00:13 JST dengan perjalanan cukup lumayan ke Nissan di Yokohama tadi)

dadoohh.. sampe ketemu lagi
dan nggak bosen saya bilang
Jaya Indonesia
MERDEKA!!

mencoba berunek-unek tentang pendidikan (gaje version)

again, Indonesian.. so sorry for friends from other countries 😦

yak.. ngunek-ngunek gaje saya sekarang agak meningkat dikit (dari segi ketidak jelasan maksudnya.. bukan kualitas)
biasa.. bilang tentang latar belakang dulu..
yak.. karena emang orang yang paling sering saya hubungin saat ini adalah seorang praktisi (dalam hal ini maksudnya siswa kelas 3 SMA) pendidikan, dan kemaren sempet denger-denger itu yang namanya RSBI (Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional) dihapus.. saya jadi tergatal-gatal (kalo tergelitik ato gatal.. it’s too mainstream boo) untuk nulis unek-unek ini..
gaje sih.. dan nggak komprehensif.. banyakan opini pribadi sehingga sejak awal saya akan menyatakan : jangan pernah mensitasi tulisan ini buat tugas apapun kecuali tugas bahan lawakan (yang sama sekali nggak membantu soalnya nggak lucu.. gaje)

yozoh!! hajimemashoooo!!
saya terbentuk dari SMA yang emang dari awalnya nggak perlu pake RSBI tapi kena juga itu label RSBI.. bahkan ampe R nya dihapus jadi SBI .___. .. kalo mau tau cerita SMA saya bisa baca post ini
pas denger ada bentukan RSBI gitu, saya agak sangsi.. apa iya itu program bakalan jalan?
setau saya sih (ini tegas ya.. setau saya) itu RSBI adalah sekolah yang diunggulkan dari sekolah pada umumnya, punya program khusus yang juga dapet tunjangan khusus dari pemerintah
intinya.. pengennya sekolah itu bisa seperti bertaraf internasional.. yang pendidikannya bagus lah.. kurikulumnya jalan, baik yang normal dari pemerintah maupun yang tambahan macem ekstrakurikuler dan kelengkapan fasilitas.. juga yang paling (kayaknya) agak ditekankan adalah “bilingual” alias make dua bahasa.. yang bisa ditebak banget bahasa pengantar satunya adalah bahasa Inggris.. dan itu kebijakan mempengaruhi para pengajar untuk mempelajari (lagi) bahasa Inggris demi menyampaikan pelajarannya sesuai dengan aturan
bukannya kenapa-kenapa sih.. tapi yang saya tangkep waktu itu adalah malah kesannya jadi maksa.. sang pengajar yang ahli pada bidangnya dan mampu menyampaikan dengan baik malah harus berpikir dua kali (dan nggak jarang terpaksa menyederhanakan penjelasannya) demi mengejar penjelasan pake bahasa Inggris.. kalo nggak, ujung-ujungnya ya.. pake bahasa Indonesia.. daripada repot.. yah.. sama aja boong donk
kalo dilogika sih.. sebenernya idealisme RSBI tuh tujuannya bagus dan keren.. biar peserta didik berpikiran (yang katanya) lebih global gitu deh.. terbuka untuk ke luar negeri..
*nb. di sini saya mencermati dan mengungkapkan keprihatinan saya mengenai pemikiran beberapa anak bangsa saya yang masiiiih aja menganggap dengan entengnya : “luar negeri itu jauh lebih baik daripada negeri sendiri”.. kasian.. nggak sadar dan nggak bangga sama negaranya.. hiks
yah.. nggak muna sih.. emang beberapa negara fasilitas dan model pendidikannya lebih baik daripada di Indonesia (dan saya di sini emang ada tujuan mau menceritakan sekelumit sistem pendidikan di Jepang.. tempat tinggal sementara saya).. tapi nggak berarti pendidikan Indonesia bisa direndahkan sejelek itu.. dan (yang sedihnya) sama anak bangsanya sendiri.. yuk bangga sama Indonesia lebih lagi ^^

btt.. kayaknya sih (sepengetahuan saya.. garis bawah ya) si RSBI ini akhirnya dihapus karena ada indikasi praktek-praktek yang nggak mendukung tujuan idealisme awal si RSBI itu ada.. misal.. SMA yang punya label RSBI ini biasanya punya sistem penerimaan siswa baru yang beda dari SMA lainnya.. dan (biasanya) biayanya juga lebih mahal.. ya.. pantes aja sih.. soalnya biasanya SMA yang berlabel gitu kan yang punya stereotip SMA terkeren sedaerahnya..
*yak.. memang pandangan kita masih bilang : anak bakal baik kalo masuk SMA yang stereotipnya baik.. dan anak bakal buruk kalo masuk SMA yang stereotipnya buruk.. nggak sepenuhnya salah.. nggak sepenuhnya bener.. tapi saya nggak bakal bahas itu di sini.. kepanjangan .__.
btt again.. sedihnya, kadang sistem penerimaan siswa baru yang beda itu disalahmanfaatkan oleh beberapa bagian sistem (bisa seluruh SMA itu, maupun anggotanya).. misal, matok harga yang tuinggi banget.. sehingga anak yang aselinya pinter tapi nggak terlalu berduit jadi lebih sedikit kesempatan masuknya (ada sih beasiswa.. tapi tetep aja nggak banyak.. percaya deh) ato kadang ada hal penyalahmanfaatan wewenang lainnya (nggak berani nyebutin ah)
dan itu sih yang saya pahami dari beberapa bacaan yang saya baca, kenapa MK (Mahkamah Konstitusional) akhirnya mencabut label RSBI itu.. di samping alasan (yang menurut saya agak aneh sih) nanti kalo sekolah pake bahasa Inggris, menghilangkan kecintaan pada bahasa Indonesia.. *apa iya sih? segitunya kita nggak bisa nggunain hal yang selalu kita gunakan bahkan ketika kita hampir nggak sadar cuma gara-gara sekolahnya setengah-setengah pake bahasa lain? it doesn’t make sense to me.. maaf 😦
yang saya cermati lagi (karena saya memikirkan nasib orang yang emang sering banget komunikasi.. yang tadi disebutin di awal..) adalah diubahnya sistem penerimaan mahasiswa baru tahun ini
setahu saya sekarang, nilai Ujian Akhir Nasional (UAN) dan raport SMA dari semester 1 ampe semester 5 bakal dijadiin pertimbangan untuk menerima mahasiswa baru di PTN di Indonesia.. dan.. denger-denger.. saya masih katro dan ketinggalan berita sih, katanya SNMPTN mau dihapus.. CMIIW.. -ada apdetan dari anak yang jadi salah satu alasan nulis postingan ini bahwa SNMPTN tetep ada dan berbentuk seperti jalur “undangan” tahun lalu.. sedangkan tes tertulis tetep ada dengan nama SBMPTN : Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri- dan juga, si anak harus memilih PTN dengan satu PTN adalah PTN yang di provinsinya di mana dia mengenyam SMA (misal.. SMA nya di Solo, maka dia nggak bisa milih ITB dan UGM karena ITB di Jabar dan UGM di Yogya.. dia harus milih UNS ato Undip misalnya selain satu ITB ato UGM tadi).. kayaknya ini pengen pemerataan pendidikan gitu ya? enggak berani menjudge ah.. toh menurut saya, semua perguruan tinggi itu punya kebaikan tersendiri ^^
satu lagi.. tentang BOS.. alias Biaya Operasional Sekolah.. yang dijanjikan pemerintah untuk dikucurkan kepada para peserta didik yang kurang mampu.. semoga itu program bisa jalan bener ya.. seneng kalo lihat anak yang sebenernya kurang mampu dari segi finansial suatu saat nanti jadi pengubah dunia (kepikiran Lintang, tokoh di novel keren Laskar Pelangi)

yak.. pembicaraan ngalor-ngidul tadi saya simpulkan menjadi : Indonesia sepertinya masih sedikit bingung untuk mencari jati diri sistem pendidikannya.. masih mencari sistem yang terbaik.. saya berdoa semoga cepet dapet yang terbaik yaa (kayak doain punya istri aja)

nah.. sekarang saya melanjutkan tentang pengamatan saya (again.. pe nga ma tan ya.. dan hasil tanya beberapa anak di sini) akan pendidikan di Jepang
sebenernya dari segi pembagian jenjang, di Jepang anak bersekolah dengan sistem yang supermirip sama di Indonesia
ada 6 tahun Shogakko (SD), 3 tahun Chuugakko (SMP), dan 3 tahun Koko (SMA) *nb, o di sini dibaca panjang.. harusnya yang ada garis di atasnya.. cuma saya nggak hafal bahasa HTMLnya apa.. sori
kesamaannya lagi adalah sekolah di sini dibagi jadi public (negeri) dan private (swasta).. sedikit beda dari yang di Indonesia (dan ini yang pengen saya enlarge sih), adalah di sini public school itu bener-bener public school dalam artian ya emang dibiayain dan diselenggarakan oleh pemerintah.. anak yang masuk public school didata sejak dia masuk usia 6 tahun di bulan April (tahun ajaran dimulai April dan berakhir Maret).. dia bakal ditawarin untuk sekolah di public school terdekat dari lingkungannya
*nb. makanya sering dilihat di anime, bahkan doraemon, bahwa si anak tuh sekolahnya bisa cuma jalan kaki.. dan temen sekolahnya ya juga temen main di rumahnya sehari-hari.. karena emang sekolah yang dikasih ke dia adalah sekolah yang paling deket sama lingkungan rumahnya.. dan dibiayai sama pemerintah
bisa aja sih (dan jadi trend bagi pendidikan menengah ke atas, mulai dari SMA biasanya.. SMP dikit2) orang tua anak itu pengen anaknya sekolah di private school.. keunggulannya private school, biasanya emang pendidikan di sana lebih bagus.. walau harus dibayar dengan pembiayaan sekolahnya.. dan mungkin letaknya bisa jauh..
tapi umumnya, buat SD, kebanyakan anak masuk public school selain karena emang public elementary school itu bhuanyak banget (tercatat 22.000 lebih SD di seluruh Jepang.. sayang, saya nggak dapet data berapa yang public).. gratis, juga deket dari rumah jadi ortunya bisa ngawasin dengan enak
karena sistem ini, keikutsertaan anak Jepang terhadap pendidikan dasar 9 tahun (SD-SMP) mencapai 99,98% (wow)
kerennya, nggak cuma diikutin hampir semua anak, tapi peringkat pendidikan di Jepang memang tinggi (peringkat 5 untuk kelas 4 dan 4 untuk untuk kelas 8 pada tahun 2011, sumber TIMSS
wow wow.. keren yak?

yang saya cermatin lagi di sini, anak SMA yang mau masuk kuliah itu kayak orang mau maju perang.. gimana enggak, masuk universitas di Jepang itu swusahnya bukan main.. mereka harus nempuh dua ujian :
1 ujian macem SNMPTN yang diselenggarakan serentak di seluruh Jepang (yang tahun ini bakal diadakan Sabtu Minggu besok yang berarti liburan buat kami, para anak kuliahan) dan ujungnya menghasilkan nilai (semacam NEM gitu lah);
2 nilai yang didapetin dari ujian 1 bakal jadi tolok ukur si anak ini pantes nggak daftar di universitas tertentu, mirip kayak sistem NEM masuk SMA tapi bedanya kalo di sini, itu tiket daftar doank.. tetep harus ujian lagi.. ujian sebenernya yang dikasih sama univ
bedanya sama negara gue lagi adalah : di Jepang masuk kuliah susah, tapi keluar kuliah gampang.. kebalikan banget sama di Indonesia.. yakin deh.. bakal lebih banyak orang yang galau ngerjain skripsi daripada galau cari kuliahan .__.
di Jepang, anak undergraduate hampir terjamin dapet bachelor dengan gampang.. mereka cuma bikin skripsi yang sederhana pun pasti lulus.. dan emang kalo udah tingkat 4, kerjaannya ya di lab aja (kayak temen sebelah gw ini yang daritadi celingukan bingung gw nulis apaan dan nggak nyadar kalo lagi ngomongin dia.. hehe)
tugas tingkat 4 cuma jikken (eksperimen) dan zemi (seminar)
titik.. otomatis lah dia bakal punya skripsi yang beres dan siap buat diuji
cling.. lulus deh

tapi-tapi.. bedanya lagi.. ada di tingkat pendidikan pasca sarjana
di Indonesia, biasanya anak S1 hampir semuanya kerja.. biar cepet dapet gaji.. trus kawin.. eh.. nikah dulu maksudnya
anak sini, sekitar 94% lanjut ke master degree
kenapa eh kenapa? ya karena emang lingkungannya beda
pekerjaan di Indonesia kebanyakan lebih gampang didapet dengan gelar S1.. kalo ketinggian, biasanya perusahaan enggan buat mempekerjakan.. lantaran kalo pendidikannya tinggi biasanya minta gaji tinggi juga
kalo di sini, umumnya perusahaan nerima anak master.. jadi ya wajar anak sini pada sampe master
nah.. beda sama anak bachelor, anak master udah agak berbeban.. mereka emang harus nerbitin paper berkualitas buat lulus.. jadi anak di sini baru terpacu lagi pas masuk master.. niat bikin paper keren.. nggak cuma lulus.. punya gelar master doank..
lebih lagi kalo si anak ini masuk hakase (doktor).. tiga publikasi internasional.. minimal.. ngehek

panjang ya? masih ada nih.. mengenai pembiayaan
udah disinggung tadi, public school yang biasanya buat compulsory education (9 tahun pertama) disokong sama pemerintah
nah kalo untuk univ, banyakan univ private (di sini univ negerinya yang terkenal itu 7 imperial univ.. apa aja silakan disearch :3) kayak Tokodai yang saya singgahi sekarang ini.. itu private
nah.. gimana caranya anak-anak yang nggak terlalu mampu buat mengenyam pendidikan tinggi?
di Jepang ada program macem “loan” gitu.. jadi dikasih beasiswa buat sekolah tinggi.. tapi habis kerja.. harus dibalikin
hem.. semoga pembiayaan beasiswa di Indonesia lebih lancar lagi yaa ^^

terakhir deh.. mengenai kemampuan berbahasa Inggris
nah ini kita bisa agak bangga.. tapi agak nggak bisa dibilang bangga juga sih.. tergantung sudut pandang
tapi intinya, anak Indonesia kalo disuruh ngomong, baca, dan nulis dalam bahasa Inggris, umumnya lebih jago daripada rata-rata anak Jepang
yah.. ini sih kayaknya sisi keren dari adanya RSBI yang disinggung di part pertama post ini :3
suer dah.. susah banget ngomong pake bahasa Inggris di sini
temen selab yang kebanyakan udah pada master aja bahasa Inggrisnya masih lebih plegak-pleguk daripada gue yang padahal bahasa Inggrisnya payah.. untungnya ada bahasa universal : bahasa Tarzan alias bahasa isyarat .___.
btt, menurut saya, ini pengaruh pendidikan sejak kecil dan lingkungan sih
orang Jepang termanjakan oleh negaranya.. yang emang udah mumpuni.. udah canggih.. dan udah keren buat menghidupi rakyatnya dengan enak..
*nah di sini saya menemukan sedikit sisi positif anak bangsa yang merasa bangsanya masih ketinggalan dari bangsa lain..
sedangkan di Indonesia, kita mati-matian mempelajari bahasa Inggris (sampe-sampe sekarang TK aja udah ada yang berbahasa Inggris.. bahkan play group .__.) karena kita merasa butuh itu buat bertahan hidup
gampangnya deh.. ini kalo yang pake laptop ato komputer, bahasa di laptop ato komputernya apa? kayaknya kemungkinan besar Inggris.. trus yang browsing dari hape, bahasa hapenya apa? aneh ga sih bahasa hape yang Indonesia?
yup.. kita kebiasaan dengan bahasa Inggris di hal-hal yang deket sama kita.. macem teknologi
lagi, waktu jaman kecil main game, game nya bahasa apa? Inggris kan? (seumuran saya kecil, game berbahasa Indonesia hampir ga ada deh)
makanya, kita “terpaksa” berlatih bahasa Inggris secara nggak sadar.. karena hal-hal di sekeliling kita menuntut kita buat gitu
bandingin sama di sini, di Jepang.. mostly laptop dan komputer udah berbahasa Jepang (walopun start juga tetep dibilang sutaato pake katakana sih).. lagi, game juga banyakan bahasa Jepang (susah cari versi US dari sebuah game di sini.. apalagi yang terbitannya Konami, Bandai, SquareEnix, dll).. yaudah.. nggak ada hal biasa yang menuntut mereka untuk ber-Inggris ria

fiuhhh… capek juga nulis more than 2000 words
garis bawah dari pendidikan di Jepang dan dibandingin di Indonesia
kalo mau dilihat dari sejarahnya, pendidikan Jepang dulu itu kuno, banget (bisa dilihat di sini kalo niat)
tapi, dirombak abis-abisan dan pemerintahnya rela berdarah-darah buat mewujudkan itu
sementara itu Indonesia.. hemmm.. masih galau buat nentuin jalan ke mana.. tapi nggakpapa.. namanya juga proses.. kalo nggak kotor, nggak belajar 😛
saya yakin sih, suatu saat nanti Indonesia juga bakal nemuin sistem pendidikan yang terbaik buat rakyatnya
dan saya berdoa, kaum akademisi di Indonesia semoga bisa membantu hal itu terwujud.. dan selalu terkobarkan semangatnya untuk memajukan bangsa

akhir kata.. semoga racauan ini bisa bermanfaat.. walopun banyak ngaconya
dan sekali lagi, pehlis jangan jadi sitasi buat tulisan yang berbau akademik
kalo mau dishare lagi ato dikomentari, saya merasa suangat senang.. karena nggak nyangka coretan gaje gini ada yang mau baca.. apalagi mau nanggepin

yozoh!! Jaya Indonesia
Merdeka!